Logo SantriDigital

Haji dan Selfie

Khutbah Jumat
A
Ahmad Jumaili
10 Mei 2026 4 menit baca 1 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari sekalian, yang semoga senantiasa dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hari ini, kita berkumpul di rumah-Nya yang mulia, untuk menunaikan ibadah salat Jumat. Sebuah momen yang seharusnya diisi dengan kekhusyukan, tadabbur, dan introspeksi diri. Namun, izinkan khatib kali ini sedikit membuka tirai kenyataan di zaman kita, yang kadang membuat kita tersenyum getir, bahkan mungkin tertawa miris. Kita bicara soal ibadah haji. Ibadah agung yang merupakan rukun Islam kelima. Perjalanan spiritual yang dipenuhi dengan pengorbanan, perjuangan, dan kerinduan mendalam untuk bersua dengan baitullah. Sebuah kesempatan emas untuk membersihkan diri, menebus dosa, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Betapa mulianya niat para sahabat dulu, yang berangkat ke Baitullah dengan bekal iman dan tawakkal semata. Namun, lihatlah sekarang, Ma’asyiral Muslimin. Di tengah lautan jamaah yang tulus beribadah, muncullah fenomena yang kini tak bisa kita pungkiri: Fenomena *selfie* di Tanah Suci. Bukan, khatib tidak sedang menghakimi setiap jepretan kamera. Dokumentasi itu perlu, untuk kenangan, untuk berbagi kebahagiaan. Tapi, tatkala momen-momen sakral dan penuh khidmat tergantikan dengan sibuknya mencari *angle* terbaik, bergaya paling hits, atau bahkan membuat video *vlog* yang lebih mementingkan *viewers* daripada kedekatan dengan Allah, di situlah kekhawatiran itu muncul. Pernah Bapak Ibu mendengar kisah orang yang melaksanakan haji bertahun-tahun tapi tak terlihat perubahan? Atau kisah orang yang hafal Al-Qur'an tapi saat ditanya ayat pertama, ia lupa? Nah, haji yang dipenuhi *selfie* ini bisa jadi masuk kategori yang sama. Ibaadallaah, kita datang ke sana untuk beribadah, bukan berlomba menjadi *influencer* tersuci di dunia maya. Di bawah terik matahari Arafah, di saat jutaan manusia menengadahkan tangan memohon ampun, ada yang sibuk mengatur rambut agar fotogenik. Di depan Ka’bah yang penuh duka dan air mata para pejuang iman, ada yang berpose bak model iklan, mencari *like* dan komentar. Astagfirullah. Seolah-olah nilai ibadah itu diukur dari jumlah *followers* yang bertambah, atau jumlah *posting*-an yang diunggah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an: وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ. "Dan ingatlah karunia Allah kepadamu ketika kamu dahulu (malaikat-malaikat berkata): 'Kami telah menjadikanmu sebagai rasul. (Ingatlah pula) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada malaikat: 'Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang yang beriman. Nanti akan Aku tanamkan rasa takut kepada orang-orang kafir. Maka pukullah batang leher mereka dan pukullah tiap-tiap ujung jari mereka' (QS. Ali ‘Imran: 103)." Ayat ini mengingatkan kita tentang nikmat terbesar setelah Islam, yaitu ukhuwah (persaudaraan) yang dibawa oleh Allah. Di Tanah Suci, seharusnya ukhuwah itu semakin menguat. Bukan justru terpecah belah oleh keinginan pamer dan mencari perhatian di media sosial. Yang lebih parah, kadang tatkala melihat orang lain berpose, muncul rasa iri, *ujub*, dan riya’ dalam diri. Na’udzubillahi min dzalik. Bayangkan, Bapak-bapak, Ibu-ibu. Para nabi, para sahabat, para auliya’ shalihah, mereka beribadah dengan hati yang merintih, jiwa yang tunduk, dan mata yang berlinang air mata penyesalan dan kerinduan. Mereka datang untuk bertemu Allah, bukan untuk membuat *feed* Instagram mereka berwarna-warni. Apakah kita sungguh-sungguh ingin meniru jejak mereka, atau sekadar membuat konten yang ramai tapi kosong makna? Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Mari sejenak kita renungkan. Di negeri kita, banyak orang yang bermimpi, menabung mati-matian, bahkan berhutang demi bisa berangkat ke Baitullah sekali seumur hidup. Mereka melihat foto-foto Ka’bah, mendengarkan cerita-cerita haji, dan hati mereka bergetar, memohon agar diberi kesempatan. Dan ketika kesempatan itu tiba, bukankah lebih indah jika kita benar-benar fokus pada ibadah? Menikmati setiap detik kebersamaan dengan Allah. Merasakan kedamaian di Masjidil Haram, kekhusyukan di Raudhah, dan keagungan di Arafah. Bukankah itu lebih berharga daripada beribu-ribu *like* dan *comment* yang akan hilang ditelan zaman? Khatib tidak melarang dokumentasi. Tapi, mari kita utamakan akhirat di atas dunia. Utamakan Allah di atas *followers*. Biarkan amal haji kita menjadi bekal yang kokoh untuk menghadap Allah, bukan sekadar menjadi koleksi foto yang membanggakan semu di dunia maya. Mari kita jadikan haji sebagai titik balik untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dekat dengan Sang Pencipta, dan lebih bermanfaat bagi sesama. Terkadang, tatkala melihat jamaah terlalu sibuk dengan *gadget*-nya, khatib teringat sebuah analogi jenaka: “Dia datang ke rumah kekasihnya, tapi lebih sibuk memotret pintu rumahnya daripada memeluk kekasihnya.” Sungguh sebuah ironi. Bapak, Ibu, Saudara-saudari sekalian. Mari kita bersihkan hati kita. Mari kita beningkan niat kita. Saat kita berdiri di tanah suci, tataplah Ka’bah, rasakan keagungannya, dan bisikkan kerinduan hati kita kepada Allah. Bukan kepada kamera ponsel yang sedang kita genggam. Karena pada akhirnya, yang akan kita bawa pulang adalah amalan kita, bukan *follower* kita. Yang akan dikenang adalah kesucian jiwa kita, bukan keindahan *background* foto kita. Insya Allah. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →