patuh terhadap orang tua
Ceramah
M
Mahendra
10 Mei 2026
5 menit baca
1 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَبِالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Hadirin sekalian yang dirahmati Allah,
Yang terhormat Bapak-bapak, Ibu-ibu, para alim ulama, para kyai, asatidz, asatidzah. Dan yang saya banggakan, seluruh hadirin sidang pemuda-pemudi Islam yang insya Allah senantiasa dalam lindungan Allah SWT.
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Sungguh merupakan suatu kehormatan bagi saya pada kesempatan yang berbahagia ini dapat berbagi dan bertukar pikiran dengan antum sekalian. Marilah kita panjatkan rasa syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita, sehingga kita dapat berkumpul di majelis yang mulia ini dalam keadaan sehat walafiat.
Tema kita pada hari ini, "Patuh Terhadap Orang Tua," mungkin terdengar sederhana, namun maknanya sangat mendalam dan fundamental dalam ajaran Islam. Khususnya bagi kita, para remaja dan pemuda, yang sedang berada di fase penting pembentukan karakter dan masa depan.
Saudara-saudaraku yang seiman, pernahkah kita merenungkan betapa besar jasa kedua orang tua kita? Mereka adalah gerbang pertama kita menuju kehidupan ini. Mereka yang telah merawat, mendidik, mencurahkan kasih sayang, bahkan mengorbankan banyak hal demi kebahagiaan kita. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلًا كَرِيمًا
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya; dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra': 23)
Ayat ini dengan tegas memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada orang tua, bahkan melarang kita untuk mengucapkan kata "ah" yang merupakan ungkapan ketidaksenangan. Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan orang tua dalam Islam.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
"عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ: عُقُوقَ الْأُمَّهَاتِ، وَوَأْدَ الْبَنَاتِ، وَمَنْعَ وَتَغَرُّمَ عَلَى النَّاسِ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ: قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ»
"Dari Mughirah bin Syu'bah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian: durhaka kepada ibu-ibu, mengubur anak perempuan hidup-hidup, tidak memberi hak orang lain, dan mengharamkan atas kalian: banyak bicara (menggunjing), banyak bertanya (meminta-mint), dan menyia-nyiakan harta." (HR. Bukhari)
Durhaka kepada orang tua, terutama ibu, adalah dosa besar yang sangat ditakuti dalam Islam. Para ulama menjelaskan bahwa perintah berbakti kepada orang tua ini datang setelah perintah untuk bertauhid, menunjukkan betapa pentingnya posisi mereka.
Bagaimana bentuk patuh yang kita maksud? Patuh di sini bukan berarti kehilangan akal sehat atau mengesampingkan prinsip-prinsip agama. Patuh kepada orang tua adalah taat kepada mereka dalam perkara yang tidak bertentangan dengan syariat Allah. Apabila orang tua memerintahkan sesuatu yang jelas-jelas melanggar perintah Allah, maka ketaatan tidak lagi berlaku kepada mereka, melainkan kepada Allah semata. Namun, dalam menyampaikan ketidaksetujuan atau penolakan pun, tetap harus dilakukan dengan cara yang santun dan penuh hormat.
Mari kita lihat kisah nyata. Ada seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Beliau adalah seorang tabi'in yang sangat taat kepada ibunya. Disebutkan bahwa ibunya sakit keras dan sangat ingin menunaikan ibadah haji. Meski dalam kondisi susah, Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekah untuk menunaikan haji. Perjalanannya sangat berat, namun demi ridha ibunya, ia rela menanggung segalanya. Kisah seperti ini mengajarkan kepada kita bahwa berbakti kepada orang tua bisa mengambil banyak bentuk, tergantung kondisi dan kemampuan kita.
Bagi kita, para remaja, bentuk patuh dan berbakti itu bisa sangat sederhana. Menjawab panggilan mereka dengan sopan, membantu pekerjaan rumah tanpa diminta, belajar dengan tekun untuk membanggakan mereka, menjaga nama baik keluarga, mendoakan mereka di setiap kesempatan. Ketika kita bisa melakukan hal-hal ini, insya Allah, Allah akan memberikan kemudahan dalam hidup kita.
Seorang ulama besar, Syekh Abdul Qadir Al-Jilani, pernah berkata:
"Bakti kepada orang tua membuka pintu rezeki dan mempermudah urusan dunia akhirat." Di beberapa literatur, disebutkan juga:
"رضا الوالدين مفتاح الجنة"
"Ridha orang tua adalah kunci surga."
Ini menunjukkan betapa besar ganjaran bagi mereka yang berbakti kepada orang tua. Ingatlah, usia orang tua tidak selamanya muda. Suatu saat, mereka akan meninggalkan kita. Maka, manfaatkanlah waktu yang ada untuk berbakti dan menunjukkan kasih sayang kita kepada mereka. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena terlambat menyadari betapa berharganya mereka.
Mari, saudaraku, kita jadikan momen ini sebagai introspeksi diri. Apakah kita sudah cukup berbakti kepada orang tua kita? Apakah kita sudah mengucapkan kalimat-kalimat baik kepada mereka? Apakah kita sudah mendoakan mereka dengan tulus? Jika belum, marilah kita mulai dari sekarang. Mulai dengan langkah kecil, namun konsisten. Perbanyaklah doa untuk kedua orang tua kita, seperti yang diajarkan dalam Al-Qur'an:
رَبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيَّ وَارۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
"Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil." (QS. Al-Isra': 24)
Dengan memohon ampunan dan rahmat untuk orang tua kita, kita tidak hanya mendoakan kebaikan bagi mereka, tetapi juga menunjukkan bukti nyata dari bakti kita.
Terakhir, marilah kita berkomitmen untuk menjadi anak-anak yang berbakti. Kita ingin menjadi generasi muda Islam yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki akhlak mulia, terutama dalam menghormati dan mematuhi orang tua kita. Agar hidup kita diberkahi Allah, dan kelak kita bisa berkumpul kembali dengan mereka di surga-Nya.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba-Nya yang taat, anak yang berbakti, dan pribadi yang senantiasa mensyukuri nikmat-Nya.
Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada tutur kata yang kurang berkenan, khilaf dan salah yang disengaja maupun tidak disengaja.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ