Bersyukur dengan cara melaksanakan shalat dan berkurban
Khutbah Jumat
T
TAUFIQURRAHMAN
10 Mei 2026
3 menit baca
0 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَ...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Wahai kaum muslimin yang dirahmati Allah,
Marilah kita sejenak menunduk dalam kehampaan hati, meresapi makna syukur yang sesungguhnya. Syukur yang bukan sekadar untaian kata, bukan pula sekadar denyut di dada. Syukur yang memancar dari lubuk jiwa, yang terpatri dalam setiap gerak dan denyut nadi.
Kita hidup di bawah naungan rahmat-Nya yang tak terhingga. Setiap helaan napas adalah pinjaman, setiap detik adalah anugerah. Namun, di tengah kemudahan yang sering terucap dari lisan, akankah hati kita benar-benar merasakan kepedihan kehilangan jika anugerah itu ditarik kembali? Diri ini, diri kita semua, sering kali terbuai dalam gelimang nikmat, hingga lupa akan Sang Pemberi. Lupa akan betapa rapuhnya kita tanpa kuasa-Nya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur’an yang mulia:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
"Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah." (QS. Al-Kautsar: 2)
Ayat ini, begitu singkat, namun menggugah nurani terdalam. Shalat adalah puncak penghambaan, dialog sunyi antara hamba dan Sang Pencipta. Dalam rukuk dan sujud, jiwa merintih, mengakui kelemahan dan ketergantungan mutlak pada-Nya. Namun, sudahkah rintihan itu tulus dari hati yang basah oleh penyesalan? Sudahkah kita benar-benar tenggelam dalam keagungan Allah saat berdiri di hadapan-Nya, ataukah pikiran kita melayang ke dunia yang fana?
Dan kurban... oh, kurban. Sebuah pengorbanan yang lahir dari cinta tak terhingga. Pengorbanan yang mengajarkan makna ketundukan, kerelaan, bahkan saat harus melepaskan sesuatu yang paling kita cintai. Pengorbanan yang mengingatkan kita pada Ibrahim Alaihissalam yang rela menyembelih buah hatinya demi perintah Sang Khaliq. Apakah kita siap mengorbankan ego kita? Mengorbankan waktu kita? Mengorbankan kesombongan kita demi meraih ridha-Nya?
Terbayang dalam benak, seraut wajah seorang hamba yang datang menghadap Tuhannya dengan keringat mengucur di dahi, air mata membasahi pipi, bukan karena beban dunia, melainkan kepiluan atas dosa-dosanya yang menumpuk laksana bukit. Ia meratap, "Wahai Tuhan, aku datang dengan tangan hampa, hanya dengan hati yang retak ini kuminta ampunan-Mu."
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah...
Sesungguhnya, rasa syukur bukanlah sekadar ucapan "Alhamdulillah" di lidah. Syukur adalah ibadah. Syukur terekam dalam setiap takbir saat Idul Adha, yang mengingatkan kita pada pengorbanan tak terhingga demi keikhlasan. Syukur terpatri dalam keheningan malam saat kita bermunajat, memohon ampunan atas kelalaian yang tak terhitung.
Setiap kali kita mengangkat tangan untuk shalat, bukankah itu sebuah pengingat bahwa kita pernah hampir kehilangan segalanya? Setiap kali kita berkurban, bukankah itu sebuah pelajaran bahwa cinta sejati adalah kerelaan untuk memberi, bahkan saat hati terasa perih?
Mari kita renungi sejenak. Jantung yang masih berdetak, napas yang masih mengalir, semua adalah bukti Kasih-Nya. Namun, apakah kita mampu membalasnya dengan ketaatan yang murni? Dengan pengorbanan yang tulus?
Ya Allah... betapa hina diri ini di hadapan kebesaran-Mu. Betapa sedikit yang telah kami persembahkan. Betapa sering kami melalaikan perintah-Mu. Betapa lemah pertobatan kami.
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang senantiasa bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir, dan jiwa yang senantiasa tunduk dalam ketaatan. Semoga kita mampu menghayati makna shalat dan kurban bukan sebagai kewajiban semata, melainkan sebagai ekspresi cinta terdalam kepada Rabb semesta alam.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.