Logo SantriDigital

Tunangan

Sambutan
A
Ahmad Sayadi
5 Mei 2026 4 menit baca 4 views

Tentu, ini dia draf naskah sambutan tunangan dengan gaya lucu dan humoris, sesuai permintaan Anda: --- Bismillahirahmanirrahim اَلسَّلَامُ عَلَيْكُ...

Tentu, ini dia draf naskah sambutan tunangan dengan gaya lucu dan humoris, sesuai permintaan Anda: --- Bismillahirahmanirrahim اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. {وَالَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا} (Surat Al-A'raf: 189) رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي --- Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Yang terhormat, para sesepuh, alim ulama, para kiai, asatidz, asatidzah yang Insya Allah selalu kami hormati dan kami ta'dzimi. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya juga menyapa para Bapak, Ibu, Saudara-saudari sekalian, seluruh tamu undangan yang berbahagia atas kehadirannya. Alhamdulillahirabbil'alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah mempertemukan kita di hari yang berbahagia ini. Tak lupa shalawat serta salam kita senandungkan untuk junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW. Sungguh hari ini adalah hari yang istimewa, pasalnya, hari ini saya, calon suami, diizinkan untuk memberikan sambutan. Biasanya, kalau di hajatan, yang sambutan itu bapak-bapak atau ibu-ibu. Nah, kali ini sedikit berbeda, karena yang memberi sambutan adalah yang punya hajat (secara calon hajat!), yang sebentar lagi statusnya akan naik pangkat dari jomblo menjadi... ya, semoga segera menjadi suami. Amin! Saya di sini berdiri, bukan sebagai ahli pidato profesional yang siap mengguncang podium dengan kata-kata mutiara. Bukan pula sebagai pelawak yang siap membuat Anda terpingkal-pingkal sampai lupa tanggal. Tapi saya hadir di sini mewakili diri saya sendiri, calon mempelai pria, untuk menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya. Terima kasih yang tak terhingga kepada keluarga besar dari kedua belah pihak yang telah bersusah payah mempersiapkan acara yang sakral dan penuh berkah ini. Termasuk (sebutkan nama keluarga/pihak penyelenggara jika ada, jika tidak, sebutkan saja "keluarga besar kami"). Juga kepada seluruh panitia, semua kru yang bekerja keras di balik layar, yang mungkin sejak pagi tadi sudah lari sana-sini seperti dikejar cicilan. Terima kasih banyak atas dedikasi dan kerja kerasnya. Dan tentu saja, terima kasih yang paling dalam saya ucapkan kepada Anda semua, para tamu undangan yang sudah meluangkan waktu, tenaga, bahkan mungkin mengorbankan jam tidur siang demi hadir di acara ini. Kehadiran Anda semua adalah kado terindah bagi kami. Jujur saja, tanpa kehadiran Anda, acara ini mungkin hanya akan ramai oleh kami berdua yang saling pandang sambil makan kue tunangan sendiri. Lumayan hemat, tapi kurang syahdu. Acara tunangan ini, bagi sebagian orang mungkin hanya sebatas seremonial. Tapi bagi kami, ini adalah langkah awal dari sebuah perjalanan panjang. Perjalanan yang seperti kata pepatah Minang, "Raso... eh, salah!" yang seperti kata pepatah bijak, bahwa menikah itu menyatukan dua insan, dua keluarga, dan dua masa depan. Dan dalam Islam, hal ini sangat ditekankan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: وَالَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا *"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya..."* (Surat Ar-Rum: 21) Nah, dari ayat ini kita bisa belajar banyak. Pernikahan itu tujuannya agar kita punya "teman hidup" yang membuat kita tentram. Bukan hanya teman buat makan seafood tengah malam, bukan hanya teman buat ngontrak rumah, tapi teman buat berjuang bersama menggapai rida Allah. Insya Allah, kami berdua akan menjadikan rumah tangga kami sebagai sakinah, mawaddah, warahmah. Amin! Saya tidak mau berjanji muluk-muluk soal masa depan. Yang jelas, saya berjanji akan berusaha menjadi suami yang lebih baik dari... *eh, calon suami yang baik*. Saya akan berusaha menjadi imam yang membimbing, bukan hanya dalam urusan dunia, tapi juga dalam urusan akhirat. Dan saya juga ingin menjadi penopang, bukan hanya penopang rumah, tapi penopang impiannya. Jangan khawatir, saya tidak akan menopang berat-berat sampai pingsan, paling banter menopang dompetnya kalau sedang kantong kering. Hehehe. Tunangan ini bukan akhir dari segalanya, tapi justru awal dari sebuah perjuangan. Perjuangan untuk saling memahami, saling menerima kekurangan, dan saling menutupi aib. Jika nanti ada sedikit gesekan, itu tandanya kami sedang belajar memoles permata agar semakin berkilau. Kalau nanti ada kerikil kecil yang menghalangi langkah, itu tandanya kami sedang belajar menjadi tim yang solid untuk menyingkirkannya. Untuk itu, kami mohon doa restu dari seluruh hadirin. Doakan kami agar proses selanjutnya dimudahkan, agar kami bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, dan kelak dikaruniai keturunan yang saleh dan salihah, yang bisa menjadi penyejuk hati orang tua. Acara ini mungkin sederhana, tapi harapan kami begitu besar. Semoga momen ini menjadi berkah bagi kita semua, dan menjadi pengingat bagi kita bahwa kebahagiaan sejati datang dari hati yang tulus dan ikatan yang suci. Demikianlah sambutan dari saya. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan, atau candaan yang garingnya minta ampun. Maklum, namanya juga calon pengantin, otaknya suka error kalau lagi deg-degan begini. Terima kasih atas perhatiannya. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ---

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →