Logo SantriDigital

Tiga pelajaran dari haji dan berqurban

Khutbah Jumat
A
Ahmad khotib
4 Mei 2026 4 menit baca 3 views

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أَمَّا بَعْدُ، ف...

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Hadirin sidang Jumat yang berbahagia, Allaahu Akbar! Allaahu Akbar! Allaahu Akbar! Di hari yang penuh berkah ini, di hadapan-Nya Yang Maha Agung, marilah kita tadahkan tangan, kita tundukkan kepala, kita basahi hati dengan air mata penyesalan, merenung dalam untaian hikmah dari dua ibadah agung yang baru saja kita syukuri nikmatnya: yaitu ibadah Haji dan ibadah Qurban. Dua pilar keimanan yang menjadi puncak kerinduan umat Islam di seluruh penjuru bumi, dua ujian cinta yang menguji ketulusan seorang hamba kepada Rabb-nya. Pertama, dari ibadah Haji, pelajaran terpenting yang harus kita rengkuh adalah makna *ketundukan total* dan *penanggungan ujian*. Saat kita melihat jutaan manusia dari berbagai bangsa, warna kulit, dan status sosial, bersatu dalam satu tujuan, mengenakan kain putih yang sama, mengelilingi Ka’bah yang suci, lalu melangkah mengikuti jejak Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, bukankah itu bukti nyata akan kebesaran Allah yang mampu menyatukan hati? Bukankah itu gambaran kita di hadapan Allah Maha Menguasai alam semesta? Di sana, tidak ada lagi gelar, tidak ada lagi harta, yang ada hanyalah hamba yang berlumuran dosa, memohon ampunan tanpa henti. Allah Ta'ala berfirman: {وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ} "Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka'bah) itu tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian dari maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, 'Bersihkanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang thawaf, orang yang iktikaf, orang yang rukuk dan sujud.'" (QS. Al-Baqarah: 125). Di tengah jutaan orang, di tengah panas terik dan kerumunan, kita belajar menahan amarah, menahan keinginan diri, demi kepatuhan mutlak kepada perintah Sang Pencipta. Ini adalah latihan jiwa yang luar biasa untuk mengikis ego dan kesombongan yang seringkali menjadi penghalang antaran kita dan Allah. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Kedua, dari ibadah Qurban, pelajaran mendalam yang terbentang adalah tentang *pengorbanan diri yang tulus demi cinta Ilahi*. Ingatlah kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang diperintahkan untuk menyembelih putra tercinta, Ismail ‘alaihissalam. Di sanalah terukir puncak ketundukan yang sesungguhnya. Jiwa sang ayah bergetar, hati sang nabi merintih, namun perintah Allah bagai api yang membakar semua keraguan. Ia siap mengorbankan permata hatinya demi ridha Rabb-nya. Dan Allah melihat ketulusan itu. Allah Ta'ala berfirman: {فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ} "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!' Ismail menjawab: 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'" (QS. Ash-Shaffat: 102). Subhanallah! Puncak ketaatan adalah ketika kita rela melepaskan apa yang paling kita cintai, apa yang paling berharga, demi Allah. Pengorbanan ini tidak hanya berupa hewan semata, namun hakikatnya adalah mengorbankan ego, mengorbankan hawa nafsu, mengorbankan keserakahan, demi menghidupkan nilai-nilai kebaikan. Bukankah kita seringkali enggan berbagi, enggan memberi, enggan berkorban waktu dan tenaga untuk sesama, karena kita masih terikat pada dunia? Ibadah qurban adalah pengingat tegas bahwa cinta sejati kepada Allah menuntut kita untuk merelakan apa saja yang menjadi kesayangan kita, untuk kemudian digantikan dengan sesuatu yang lebih agung, yaitu kasih sayang dan ridha-Nya. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Ketiga, dari kedua ibadah ini, kita dapati benang merah kesalehan yang teramat penting, yaitu *semangat hijrah dan perubahan diri menuju kesucian*. Haji adalah panggilan untuk meninggalkan kampung halaman, meninggalkan segala kenyamanan, demi sebuah tujuan suci. Qurban adalah panggilan untuk membersihkan hati dari segala sifat tercela, lalu menuangkan keikhlasan dan ketundukan. Keduanya mengajarkan kita untuk terus bergerak maju, memperbaiki diri, dan tidak pernah berhenti dalam perjalanan spiritual kita. Janganlah kita hanya menjadi jamaah haji yang pernah datang, atau umat qurban yang hanya sesaat berkurban. Jadikanlah semangat itu membara dalam setiap detik kehidupan kita. Allah Ta'ala bertanya dalam surat Al-Anfal: {وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ} "Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin); mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia." (QS. Al-Anfal: 74). Hijrah bukan hanya perpindahan fisik, tetapi perpindahan dari kegelapan dosa menuju cahaya taubat, dari kelalaian menuju kesadaran ilahi, dari kemaksiatan menuju ketaatan yang tak terperi. Qurban mengajarkan kita untuk membuang segala bentuk pengorbanan yang sia-sia, yang tidak bernilai di sisi Allah, dan menggantinya dengan pengorbanan yang hakiki. Marilah kita bertanya pada diri sendiri, hati mana yang belum tersentuh rahmat-Nya? Jiwa mana yang belum menangis menyesali dosa-dosa lalu? Raga mana yang belum bergetar merindukan surga-Nya? Hadirin yang mulia, Kita berdiri di hadapan yang Maha Pengasih. Suara tangisan para nabi, rintihan para wali, dan jeritan hati setiap orang yang merindukan ampunan-Nya, semuanya menanti di hadapan setiap pintu langit. Jangan biarkan kesempatan ini berlalu begitu saja. Mari kita mulai hijrah dari diri kita sendiri, mulai berkorban sedikit dari kenyamanan duniawi kita, demi berlimpahnya rahmat dan karunia dari Allah Sang Maha Pencipta. Rindukanlah Ia, lebih dari rindu ibu pada anaknya, lebih dari rindu pencinta pada kekasihnya. Takutlah pada murka-Nya, lebih dari takut anak pada pukulan ayahnya. Sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →