tentang pemuda
Ceramah
A
abdul rasyid
6 Mei 2026
4 menit baca
3 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: {وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا} [الفرقان: 65].
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Yang terhormat para alim ulama, para kiai, asatidz, asatidzah, seluruh jajaran dewan guru, tak lupa juga bapak-bapak, ibu-ibu, dan seluruh saudara sekalian yang hadir pada kesempatan yang berbahagia ini. Serta yang paling saya cintai dan banggakan, para pemuda-pemudi penerus bangsa, generasi milenial dan gen Z yang super keren!
Alhamdulillah, puji syukur tak terhingga ke hadirat Allah SWT yang telah mempertemukan kita di majelis ilmu yang penuh berkah ini. Tak lupa shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang senantiasa berjuang di jalan-Nya.
Terima kasih banyak atas kehadiran antum semua di sini. Sungguh sebuah kehormatan bagi saya bisa berdiri di hadapan wajah-wajah cerah para pemuda-pemudi yang kelak akan memegang estafet kepemimpinan negeri ini, bahkan dunia.
Hari ini, saya ingin mengajak antum semua untuk merenung sejenak, berdiskusi santai, bukan soal film terbaru atau game yang lagi viral, tapi soal sesuatu yang jauh lebih fundamental: betapa berharganya kita sebagai pemuda di mata Allah dan Rasul-Nya.
Kadang kita suka mikir, "Ah, saya masih muda, banyak waktu, nanti saja taatnya." Benar begitu? Punya dosa banyak, nanti kalau sudah tua baru mau tobat. Nah, ini bahaya! Ibaratnya, kita punya saldo ATM, tapi kok isinya terus-terusan minus, mau diisi kapan?
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Furqan ayat 65:
{وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا}
"Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, jadikanlah azab neraka Jahanam itu pasti menjauh dari kami. Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.'"
Ayat ini, Mas, Mbak, menyoroti dua hal: pertama, adanya kekhawatiran terhadap azab Allah. Kedua, doa yang tulus untuk terhindar darinya. Siapa yang paling butuh dijauhkan dari azab, coba? Ya, orang yang penuh dosa! Dan siapa yang paling sering berbuat dosa? (tertawa kecil) Seringkali kita, kan? Termasuk saya kalau nggak diingatkan.
Rasulullah SAW pernah bersabda:
"Satu hal yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya ialah seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini keren banget, lho! Jadi pemuda yang rajin ibadah itu kayak dapat *VIP pass* ke surga. Nggak perlu antre, nggak perlu desek-desekan, langsung dapat tempat yang paling nyaman di sisi Allah. Kita ini generasi yang punya potensi besar, punya tenaga, punya semangat. Sayangnya, terkadang semangat itu tersalurkan ke arah yang kurang tepat. Main TikTok sampai subuh, *scrolling* Instagram sampai mata jereng, sementara baca Al-Qur'an cuma kalau lagi ada ujian PAI. Ngeri juga kalau dibayangin.
Ingat kisah pemuda Ashabul Kahfi? Mereka itu bukan ulama besar, bukan pinter ngatur negara, tapi mereka adalah pemuda yang berani mempertahankan akidah demi Allah. Mereka memilih lari dari kaumnya yang menyembah berhala, demi mempertahankan keimanan mereka. Mereka rela bersembunyi di gua, tapi hati mereka terjaga oleh Allah. Luar biasa kan? Ini menunjukkan bahwa Allah sangat mencintai pemuda yang punya prinsip kuat dalam agama.
Jadi, jangan pernah merasa terlambat untuk berubah jadi lebih baik. Pemuda itu masa-masa emas. Kalau kita isi dengan kebaikan, ibadah, belajar agama, berorganisasi positif, kelak kita akan jadi orang yang luar biasa. Jangan sampai masa muda kita terbuang sia-sia hanya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, bahkan mendatangkan murka Allah.
Intinya, kawan-kawan sekalian, masa muda ini adalah modal terbesar kita. Gunakan modal ini untuk membangun diri, membangun masyarakat, dan yang terpenting, membangun hubungan yang kuat dengan Allah SWT. Jangan cuma *update status* religius, tapi benar-benar diresapi. Jangan cuma *share* ayat kursi, tapi benar-benar dipahami artinya.
Mari kita jadikan diri kita sebagai pemuda yang dirindukan surga, pemuda yang kelak akan bersaksi atas kebaikan kita di hadapan Allah. Dengan semangat muda, mari kita beribadah, menuntut ilmu, berdakwah dengan cara yang cerdas, dan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan. Ingat, Allah itu Maha Pengampun, tapi juga Maha Keras siksaannya. Pilihan ada di tangan kita.
Mungkin sekian dulu yang bisa saya sampaikan. Semoga sedikit renungan ini bisa menjadi pemicu semangat kita untuk menjadi pemuda yang lebih baik lagi di mata Allah. Mohon maaf apabila ada tutur kata yang kurang berkenan, saya khilaf, antum pun pasti pernah khilaf, kan? Hehehe.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.