qurban
Khutbah Jumat
M
M SYARIF
9 Mei 2026
4 menit baca
3 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ إِنَّ الْحَمْدَ للهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُر...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Rasa takut kepada Allah, itu adalah bekal terpenting bagi kita. Betapa sering kita terlelap dalam buaian dunia yang fana, lupa akan hakikat kehidupan yang sesungguhnya. Lupa bahwa kita ini adalah hamba yang hina, yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan dari Sang Pencipta.
Hari ini, ruh Idul Adha membayang di ufuk, membawa sejuta makna dan hikmah. Salah satunya adalah sebuah tuntunan ibadah yang teramat agung, yaitu Qurban. Qurban, bukan sekadar menyembelih hewan. Ia adalah sebuah manifestasi cinta yang paling murni, sebuah pengorbanan jiwa raga yang tertinggi, sebuah penyerahan diri yang total kepada Allah Yang Maha Esa.
Lihatlah jejak pengorbanan Nabi Ibrahim alaihissalam. Ia diperintahkan Allah untuk menyembelih buah hatinya, Ismail alaihissalam. Sebuah ujian yang sungguh mengiris jiwa, sebuah perintah yang tak terbayangkan beratnya bagi seorang ayah. Namun, apa yang terjadi? Ibrahim alaihissalam, dengan keyakinan yang membaja, tidak pernah tergores sedikit pun keraguan. Ia memandang perintah Allah adalah kebenaran mutlak, dan ketaatan padanya adalah kebahagiaan sejati.
Ia berkata kepada anaknya yang tercinta:
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ismail menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Sebuah dialog yang menggugah, sebuah balasan yang menggetarkan. Dari sanalah kita belajar, bahwa qurban sejati adalah ketika kita mampu mengenyampingkan ego, melepaskan kecintaan duniawi, dan menjadikan perintah Allah sebagai prioritas utama di atas segalanya. Qurban adalah simbol pemurnian hati dari segala bentuk keserakahan, ketamakan, dan keakuan. Qurban adalah ibadah yang dipersembahkan dengan penuh keikhlasan, bukan untuk dipuji manusia, bukan pula untuk sekadar menunaikan kewajiban.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Ujian qurban Nabi Ibrahim alaihissalam ini abadi, terulang setiap tahun melalui syariat penyembelihan hewan kurban. Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur’an mengenai keutamaan qurban:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلَى مَا أَصَابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلَاةِ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
“Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan kurban, agar mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah rezeki-Nya kepada mereka. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, hati mereka gemetar, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 34-35)
Pernahkah kita merenungi, betapa banyak nikmat yang Allah curahkan pada kita? Kesehatan, harta, keluarga, bahkan kemudahan untuk bernapas. Semua adalah titipan-Nya. Ketika kita berkurban, hakikatnya kita sedang mengembalikan sebagian kecil dari titipan itu sebagai bentuk syukur. Daging hewan kurban yang kita persembahkan, sejatinya adalah refleksi dari kepatuhan kita untuk ‘menyembelih’ ego, hawa nafsu, dan segala hal yang menghalangi kita menyatu dengan ketaatan kepada Allah.
Jangan biarkan hati kita menjadi keras seperti batu, tertutup oleh kerak-kerak dunia yang memenjarakan jiwa. Ingatlah, betapa dekatnya ajal menjemput. Saat itulah segala yang kita kumpulkan di dunia takkan berarti apa-apa, kecuali amal shaleh yang kita persembahkan semata-mata karena cinta dan takut pada Allah.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Qurban bukan hanya soal harta. Qurban adalah tentang keberanian untuk berkorban, ketulusan untuk memberi, dan keikhlasan untuk taat. Ibadah qurban mengajarkan kita untuk peka terhadap sesama, untuk berbagi kebahagiaan, untuk membersihkan hati dari sifat bakhil dan pelit.
Marilah kita renungkan, sudahkah hati kita tergerak oleh panggilan qurban? Sudahkah kita mampu menundukkan hawa nafsu yang seringkali menjerumuskan kita? Sudahkah kita siap untuk mengorbankan apa yang paling kita cintai demi ridha Allah?
Jika belum, maka inilah momentumnya. Momentum untuk merenung, untuk berbenah, untuk mendekatkan diri pada Sang Pemberi Kehidupan. Jika memang harta kita belum mencukupi untuk berkurban hewan, setidaknya kuatkan niat kita, perbanyak istighfar, dan bertekad untuk terus berusaha menjadi hamba yang lebih bertakwa. Karena qurban yang hakiki adalah qurban hati.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.