Logo SantriDigital

Qurban

Khutbah Jumat
A
Ahmad khotib
4 Mei 2026 4 menit baca 4 views

أَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. وَأَشْهَدُ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا ...

أَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. وَأَشْهَدُ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah… Hari ini, udara di sekitar kita seolah bergetar oleh panggilan suci. Panggilan yang datang dari lubuk hati terdalam, dari sanubari yang merindukan kedekatan dengan Sang Pencipta. Kita berkumpul di sini, bukan sekadar memenuhi kewajiban, tetapi adalah sebuah kerinduan. Kerinduan untuk menggapai ridha Allah, kerinduan untuk menghapus noda dosa, kerinduan untuk merasakan manisnya iman yang mengalir dalam setiap hela napas. Ingatlah, wahai diri, wahai saudara-saudariku sekalian, bahwa usia kita terus berjalan, detik demi detik berlalu tanpa ampun, membawa kita semakin dekat dengan hari perhitungan. Sungguh, tidak ada bekal yang lebih berharga selain ketakwaan kepada Allah. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah… Di antara bentuk ketakwaan yang paling agung, yang menuntut pengorbanan lahir dan batin, adalah apa yang kita kenal sebagai Qurban. Kata "Qurban" itu sendiri berarti "mendekatkan diri". Ya, mendekatkan diri kepada Allah. Melalui menyembelih hewan kurban, kita tidak hanya meniru jejak Nabi Ibrahim Alaihissalam yang rela mengorbankan putra kesayangannya demi perintah Allah, tetapi kita sedang melatih jiwa kita untuk melepaskan keterikatan duniawi yang seringkali menjadi penghalang antara kita dan Sang Khaliq. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, sebuah pengingat yang menusuk relung jiwa: "لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَٮٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ" Yang artinya, “Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan pernah sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37) Lihatlah, wahai hamba Allah! Bukan dagingnya, bukan darahnya yang Allah inginkan. Tapi ketakwaan. Ketakwaan yang membuat kita rela berkorban. Ketakwaan yang membuat kita menundukkan ego, mengalahkan hawa nafsu, demi memenuhi panggilan-Nya. Betapa sering kita terikat pada harta, pada kedudukan, pada kesenangan sesaat, sehingga lupa bahwa semua ini hanyalah titipan. Qurban mengingatkan kita: lepaskanlah apa yang kau genggam erat, demi meraih sesuatu yang kekal di sisi Allah. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah… Marilah kita renungkan sejenak. Bagaimana mungkin kita bisa berkata mencintai Allah, tapi enggan berkorban demi-Nya? Bagaimana mungkin kita merindukan surga-Nya, tapi pelit untuk mengeluarkan sedikit dari apa yang Dia berikan? Perintah Qurban ini adalah ujian cinta. Ujian sejauh mana kejujuran pengakuan kita. Apakah cinta itu hanya di lisan, ataukah merasuk hingga ke dalam tindakan? Pernahkah kita membayangkan wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang begitu mencintai umatnya, bahkan hingga akhir hayatnya? Beliau bersabda, yang artinya: "يَا أَيُّهَا النَّاسُ، حُبُّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ ثَلَاثٌ: الطِّيبُ، وَالنِّسَاءُ، وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ." (Riwayat Ahmad dari Anas bin Malik) "Wahai sekalian manusia, dijadikan kecintaan padaku dari dunia kalian adalah tiga perkara: wewangian, wanita, dan dijadikan penyejuk mataku dalam shalat." (HR. Ahmad dari Anas bin Malik). Beliau mencintai hal-hal yang indah, namun puncak kebahagiaan beliau adalah dalam ibadah. Dan ibadah kurban adalah salah satu ekspresi tertinggi dari kecintaan kita pada ibadah dan pada Allah. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah… Jangan pernah kita meremehkan nilai sebuah pengorbanan, sekecil apapun bentuknya, asalkan ikhlas karena Allah. Hewan kurban yang kita sembelih, satu helai bulunya adalah satu kebaikan. Darahnya yang menetes, adalah pengugur dosa. Dagingnya yang terbagi, adalah pahala yang berlipat ganda. Ia adalah simbol pemutusan rantai keserakahan dalam diri. Ia adalah tanda kepedulian kita terhadap sesama, berbagi kebahagiaan di hari raya, meringankan beban mereka yang membutuhkan. Sungguh, betapa indahnya ajaran Islam yang memadukan ibadah vertikal kepada Allah dengan ibadah horizontal kepada sesama manusia. Ayolah, mari kita bangkitkan semangat pengorbanan itu dalam diri kita! Tinggalkan segala keraguan, segala kebakhilan. Buka pintu hati lebar-lebar untuk menerima panggilan Allah. Jika harta kita belum mampu untuk berkurban, berkorbanlah dengan tenaga, dengan waktu, dengan ilmu, dengan lisan yang baik. Karena Allah melihat hati kita. Allah mengetahui niat kita. Yang terpenting adalah semangat untuk mendekatkan diri. Semangat untuk berjuang melawan ego dan segala bentuk keburukan. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah… Ingatlah selalu, bahwa dunia ini hanyalah persinggahan. Amalan kitalah yang akan menemani kita kelak di alam keabadian. Hari di mana kita akan berdiri di hadapan Allah, tanpa pelindung, tanpa pembela, kecuali amal shaleh yang pernah kita perbuat. Maka, di hari yang penuh berkah ini, mari kita jadikan Qurban sebagai momentum untuk memperbaiki diri. Menebus segala khilaf, memohon ampunan atas segala dosa. Semoga Allah menerima Qurban kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya kelak. Aamiin. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →