Logo SantriDigital

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia yoy 5,61% dan Inflasi terkendali di 2,44%

Khutbah Jumat
M
Mahmud Syaltout
8 Mei 2026 3 menit baca 3 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ....

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ Jamaah Jumat yang senantiasa dirahmati Allah SWT, Hari ini, telaah kita akan membawa hati kita pada refleksi atas nikmat dan amanah yang Allah Ta'ala limpahkan kepada negeri kita tercinta, Indonesia. Di tengah dinamika global yang penuh tantangan, negeri ini membukukan sebuah kabar gembira: pertumbuhan ekonomi yang kuat sebesar 5,61% secara tahunan, dengan inflasi yang berhasil dikendalikan di angka 2,44%. Sebuah pencapaian yang patut kita syukuri, namun juga menjadi pengingat akan tanggung jawab yang lebih besar. Pertumbuhan ekonomi ini bukan sekadar angka statistik yang tertera di layar kaca. Ia adalah denyut nadi kehidupan jutaan saudara-saudari kita, cerminan dari kerja keras, ketekunan, dan semangat juang seluruh anak bangsa. Ia adalah bukti bahwa dengan izin dan pertolongan-Nya, kesulitan dapat diatasi, dan kemajuan dapat diraih. Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'anul Karim: إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS Ar-Ra'd: 11) Ayat ini adalah kunci ilahi yang membuka pemahaman kita. Pertumbuhan ekonomi ini adalah hasil nyata dari perubahan internal yang telah dilakukan oleh kita semua. Perubahan dalam cara kita bekerja, dalam cara kita berbisnis, dalam cara kita mengelola sumber daya, dan terutama, dalam cara kita mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Setiap keringat yang menetes dalam usaha yang halal, setiap niat baik untuk membangun, setiap keputusan yang berpihak pada kebaikan bersama, adalah bagian dari ikhtiar kolektif yang diridhai Allah. Namun, marilah kita renungkan lebih dalam. Angka pertumbuhan ekonomi yang impresif ini, bukankah ia juga bisa menjadi ujian keimanan? Apakah kekayaan yang meningkat ini menjadikan hati kita semakin dekat kepada Sang Pemberi Kekayaan, atau justru menjauhkan kita dari-Nya? Apakah kemakmuran yang kita rasakan mengantarkan kita pada kesyukuran yang tulus, atau membelenggu kita dalam kesombongan duniawi? Ingatlah kisah Qarun, seorang yang dianugerahi kekayaan melimpah ruah. Ia membanggakan hartanya dan menyombongkan diri, menganggap kekayaan itu adalah hasil kecerdasannya semata, bukan karunia dari Allah. Akhirnya, Allah menenggelamkannya beserta seluruh hartanya ke dasar bumi. Sebuah pelajaran yang amat mengerikan, bukan? Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Inflasi yang terkendali adalah sebuah anugerah yang melindungi daya beli masyarakat, menjaga stabilitas kehidupan, dan memberikan kepastian bagi para pelaku ekonomi. Namun, mari kita juga introspeksi diri. Apakah pengendalian inflasi ini mengajarkan kita untuk hidup lebih sederhana, lebih bijak dalam membelanjakan rezeki, atau justru memicu diri kita untuk semakin konsumtif dan sekadar mengikuti hawa nafsu? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari) Kesehatan dan waktu luang adalah dua aset berharga yang seringkali kita abaikan. Begitu pula dengan kemakmuran. Ia adalah karunia, bukan tujuan akhir. Tujuan akhir kita adalah meraih keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pertumbuhan ekonomi yang sehat, apabila dibarengi dengan peningkatan ketaqwaan individu dan kolektif, akan menjadi sebab bertambahnya keberkahan dalam hidup kita. Oleh karena itu, mari kita jadikan momentum pertumbuhan ekonomi dan stabilitas inflasi ini sebagai pendorong untuk lebih giat beribadah, lebih rajin bersedekah, lebih peduli pada sesama, dan lebih menjaga amanah yang telah Allah titipkan. Gunakanlah rezeki yang Allah limpahkan untuk hal-hal yang diridhai-Nya. Jadikan kekayaan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya, bukan menjauhkan. Wahai Saudaraku, Jangan pernah terlena dengan gemerlap dunia. Jangan pernah lupa bahwa di balik setiap nikmat, ada ujian. Di balik setiap kemudahan, ada tanggung jawab. Mari kita gunakan pertumbuhan ekonomi sebagai sarana untuk menata kehidupan diri, keluarga, dan masyarakat sesuai dengan tuntunan Islam. Mari kita jadikan inflasi yang terkendali sebagai kesempatan untuk lebih bersyukur dan mengendalikan diri dari pemborosan. Ya Allah, jadikanlah negeri kami negeri yang aman, makmur, dan senantiasa dalam lindungan-Mu. Tetapkanlah hati kami di atas keimanan dan ketaqwaan kepada-Mu. Berkahkanlah rezeki kami, dan jadikanlah ia sebagai jalan untuk meraih ridha-Mu. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →