penting menyembelih hewan kurban
Khutbah Jumat
M
Masrur
7 Mei 2026
5 menit baca
3 views
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat serta salam tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhamm...
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat serta salam tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, serta seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ…
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Hadirin sekalian yang dimuliakan Allah,
Pada hari yang penuh berkah ini, tatkala bumi bersujud dan langit menjaga takbir, izinkanlah diri ini mengajak segenap hadirin sekalian, termasuk diri saya sendiri, untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala. Ya, ketakwaan yang hakiki, ketakwaan yang terpatri dalam lubuk hati, yang membuahkan amal saleh dan ketaatan kepada Sang Pencipta. Ketahuilah, sesungguhnya keberuntungan yang hakiki dan kebahagiaan abadi hanya diraih oleh orang-orang yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali 'Imran: 102)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mari kita renungkan sejenak, di tengah hiruk pikuk dunia yang fana ini, ada kalanya hati kita dilanda kealpaan. Lupa akan tujuan hakiki penciptaan diri, lupa akan bekal yang harus kita bawa menghadap Sang Ar-Rahman. Hari-hari berlalu, bulan berganti, namun sejauh mana kesiapan kita menyambut panggilan-Nya? Di antara sekian banyak perintah Allah yang telah disyariatkan bagi kita, salah satunya adalah ibadah kurban. Sebuah syiar yang telah dicontohkan oleh nenek moyang para nabi, Nabiullah Ibrahim Al-Khalil ‘alaihissalam, dengan menundukkan diri sepenuhnya kepada perintah Rabb-Nya.
"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-samanya, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Dia menjawab: Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Ash-Shaffat: 102)
Lihatlah, betapa indahnya dialog antara ayah dan anak dalam menjalankan perintah Allah. Nabi Ibrahim, dengan hati yang terkoyak, siap mengorbankan permata hatinya demi mentaati Sang Ilahi. Dan Ismail, sang permata hati, dengan ketabahan luar biasa, menerima takdir dan menundukkan diri kepada kehendak Allah. Ini adalah pelajaran terbesar bagi kita, bahwa betapapun beratnya ujian, betapapun mahal harganya, cinta dan ketaatan kepada Allah haruslah berada di atas segalanya. Kurban bukan sekadar ritual, ia adalah penyerahan diri total, penundukan kehendak pribadi di hadapan Kehendak Rabb semesta alam.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Menyembelih hewan kurban adalah perwujudan rasa syukur kita kepada Allah atas segala nikmat yang telah dilimpahkan. Nikmat sehat, nikmat harta, nikmat keluarga, nikmat iman, dan nikmat Islam. Adakah nikmat yang lebih besar dari ini semua? Dengan berkurban, kita belajar untuk melepaskan sebagian dari apa yang kita cintara, dari apa yang kita cintai, sebagai bentuk pengabdian tulus kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
"Daging unta dan darahnya sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi yang dapat mencapainya ialah ketakwaanmu dari kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Hajj: 37)
Subhanallah! Bukan daging dan darah yang Allah inginkan, tetapi ketakwaan kita. Kurban mengajarkan kita untuk membuang kesombongan, keakuan, dan segala bentuk keburukan yang mungkin melekat pada diri kita. Ia adalah momentum untuk membersihkan jiwa, menyucikan hati, dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Tidakkah kita merindukan tatapan rahmat Allah yang seluas samudra? Tidakkah kita mendambakan ampunan-Nya yang tak terhingga? Kurban adalah salah satu jalan mulia untuk meraihnya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Pernahkah kita membayangkan, di saat kita sedang menikmati hidangan lezat, bergelimang harta, berada dalam kenyamanan, ada sebagian dari saudara-saudari kita di belahan bumi lain yang kelaparan, kekeringan, dan dalam kesulitan? Kurban adalah jembatan empati yang menghubungkan kita dengan mereka. Daging kurban yang kita salurkan sejatinya adalah uluran tangan kasih sayang dari kaum Muslimin kepada kaum Muslimin lainnya. Ia adalah pengingat bahwa kita adalah satu tubuh, satu saudara, satu umat yang saling mencintai, saling peduli, dan saling membantu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kecintaan dan kasih sayang mereka adalah seperti satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan, maka seluruh tubuh merasakannya dengan demam dan sakit." (HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa indahnya ajaran Islam ini, yang tidak hanya mengajarkan ibadah vertikal kepada Allah, tetapi juga ibadah horizontal kepada sesama makhluk-Nya. Melalui kurban, kita sedang menyemai benih persaudaraan, menumbuhkan rasa kasih, dan merajut kembali benang silaturahmi yang mungkin sempat terkoyak. Mari kita jadikan momen Idul Adha ini sebagai ajang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan sekadar menunaikan kewajiban, tetapi meresapi makna terdalam dari penyembelihan hewan kurban itu sendiri. Marilah kita bermuhasabah, berapa banyak harta yang telah kita berikan di jalan Allah? Berapa banyak waktu yang telah kita curahkan untuk menolong sesama?
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sungguh, ibadah kurban ini adalah ladang amal yang sangat agung. Ia adalah sarana untuk membersihkan diri dari dosa-dosa, mengangkat derajat kita di sisi Allah, dan menjadi saksi kebaikan kita kelak di hari perhitungan. Janganlah kita menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Jangan biarkan setan menggoda kita dengan bisikan-bisikan keserakahan dan kebakhilan. Ingatlah, kematian pasti akan datang menjemput, dan kita akan menghadap Allah dalam keadaan sendiri. Bekal apa yang akan kita pertanggungjawabkan?
"Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Allah berikan kepada kamu rezeki sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menunda (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan menjadi dari orang-orang yang saleh?" (QS. Al-Munafiqun: 10)
Wahai diri, wahai hadirin sekalian, jangan sampai kita seperti orang yang kelak menyesal di hari kiamat, berharap diberi kesempatan untuk bersedekah, beramal saleh, dan berkurban, namun kesempatan itu telah sirna. Marilah kita gunakan segala nikmat yang Allah berikan untuk mengabdi kepada-Nya, termasuk dengan ibadah kurban yang mulia ini. Jadikanlah setiap tetes darah hewan kurban yang mengalir sebagai saksi atas ketakwaan kita, sebagai bukti cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya, serta sebagai wujud kepedulian kita kepada sesama. Ini adalah kesempatan untuk menyucikan jiwa, menumbuhkan rasa syukur, dan mendekatkan diri pada rahmat Allah yang tak terhingga.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.