Nilai nilai yang terkandung pada hari idul adha
Khutbah Jumat
F
Fauzan Azima
6 Mei 2026
5 menit baca
3 views
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أَ...
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa yang tidak hanya diucap dengan lisan, tetapi terpatri dalam hati dan termanifestasi dalam setiap gerak langkah kehidupan kita. Di hari yang penuh berkah ini, di mana seluruh kaum muslimin merayakan Idul Adha, mari kita renungkan sejenak, apa sebenarnya nilai-nilai luhur yang terkandung dalam syariat kurban dan hari Idul Adha ini? Idul Adha bukanlah sekadar perayaan semata, tetapi sebuah momentum mendalam untuk merefleksikan pengorbanan, ketaatan, dan cinta yang luar biasa kepada Sang Pencipta.
Idul Adha mengingatkan kita pada kisah agung Nabi Ibrahim Alaihissalam dan putranya yang tercinta, Ismail Alaihissalam. Sebuah ujian keimanan yang tiada tara, di mana seorang ayah diperintahkan untuk menyembelih buah hatinya. Namun, apa jawaban Nabi Ibrahim? Beliau tidak ragu, tidak bimbang. Dengan ketundukan mutlak, beliau siap melaksanakan perintah Allah, bahkan ketika Ismail pun berkata, "Wahai Bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu." Sungguh, ini adalah puncak penyerahan diri. Allah SWT berfirman:
"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-samanya, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?" Ismail menjawab: "Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar"." (QS. Ash-Shaffat: 102)
Betapa agungnya pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail, yang mengajarkan kepada kita makna ketaatan yang tanpa syarat. Ketaatan yang mengutamakan perintah Allah di atas segala sesuatu, bahkan di atas rasa cinta paling dalam sekalipun. Hari Idul Adha adalah école de la vie, sekolah kehidupan, yang mengajarkan kita untuk senantiasa mengoreksi diri, untuk siap berkorban demi kebaikan, demi meraih ridha Allah.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Kemudian, mari kita perhatikan hikmah di balik penyembelihan hewan kurban. Kurban mengajarkan tentang kesalehan yang teruji, tentang kerelaan berbagi. Daging kurban yang diperintahkan untuk dibagi kepada fakir miskin, mengingatkan kita bahwa rezeki yang kita miliki bukanlah semata-mata milik kita sendiri. Ada hak orang lain di dalamnya, terutama mereka yang sedang berjuang dalam kesulitan. Allah SWT berfirman:
"Daging unta dan darahnya sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi yang dapat mencapainya ialah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap petunjuk-Nya yang Dia berikan kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Hajj: 37)
Ini bukan sekadar ritual formalitas, tetapi ujian ketakwaan yang sesungguhnya. Apakah kita hanya sekadar menyembelih, ataukah hati kita benar-benar tergerak untuk memberikan sebagian dari apa yang Allah titipkan kepada kita? Apakah kita rela berbagi kebahagiaan Idul Adha dengan saudara-saudara kita yang mungkin hanya bisa bermimpi untuk merasakan nikmatnya daging kurban?
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Di hari yang mulia ini, Allah SWT juga memberikan kita kesempatan untuk mengagungkan nama-Nya, bertakbir, tahlil, dan tahmid. Suara-suara takbir yang menggema di seluruh penjuru dunia adalah bukti kebesaran dan kemahaesaan Allah. Namun, apakah gema takbir itu hanya sampai di telinga, ataukah ia telah menembus relung hati terdalam? Apakah ia telah menggetarkan jiwa kita, mengingatkan kita akan kelemahan diri kita di hadapan keagungan-Nya?
Hendaknya kita merenungi betapa kecilnya kita dihadapan Allah. Betapa terbatasnya ilmu dan kekuatan kita. Di saat kita tengah bersukacita merayakan Idul Adha, janganlah kita lupakan saudara-saudara kita yang sedang tertindas, yang dilanda musibah, yang membutuhkan uluran tangan, dan doa kita.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Nilai penting lainnya dari Idul Adha adalah semangat persatuan dan persaudaraan. Umat Islam dari berbagai latar belakang, suku bangsa, dan status sosial, berkumpul dalam satu saf, satu gerakan, mengumandangkan takbir dan mengagungkan Allah. Ini adalah gambaran indahnya persaudaraan Islam yang sejatinya. Alangkah meruginya kita jika persaudaraan ini terkoyak oleh ego, oleh perselisihan yang tidak berarti, hanya karena dunia yang fana. Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta dan kasih sayang mereka adalah seperti satu badan, apabila satu anggota badan sakit, maka seluruh badan merasa sakitnya." (HR. Bukhari & Muslim)
Mari kita jadikan momen Idul Adha ini sebagai titik tolak untuk merajut kembali tali persaudaraan yang sempat renggang. Mari kita saling memaafkan, saling menyayangi, dan saling membantu. Karena sesungguhnya, kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan yang kita bagi bersama, dalam naungan rahmat dan cinta Allah SWT.
Kalaulah kita melihat diri kita, betapa seringnya kita menyakiti Allah dengan maksiat. Betapa seringnya kita melanggar perintah-Nya. Hati ini seringkali tertutup oleh dosa, telinga ini seringkali enggan mendengar nasihat. Namun, Allah Maha Luas ampunan-Nya. Allah Maha Penyayang, bahkan melebihi kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Di hari Idul Adha ini, hendaklah kita bermunajat, memohon ampunan atas segala khilaf dan dosa.
Ya Allah, inilah kami, hamba-hamba-Mu yang lemah. Kami datang dengan segala kerendahan hati. Tetesan air mata yang jatuh dari mata kami adalah bukti penyesalan kami. Rasa takut kepada siksa-Mu adalah cambuk bagi kami. Dan kerinduan untuk meraih surga-Mu adalah pelipur lara kami.
Ya Allah, pada hari yang penuh kemuliaan ini, kami memohon kepada-Mu, terimalah ibadah kurban kami, terimalah taubat kami, dan jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang Engkau cintai. Anugerahkanlah kepada kami kebahagiaan dunia dan akhirat. Jauhkanlah kami dari siksa neraka-Mu yang pedih.
Marilah kita hening sejenak, merenungkan betapa hina diri ini di hadapan Allah. Betapa beratnya pertanggungjawaban yang akan kita pikul kelak. Di saat kematian datang menjemput, siapkah kita menghadap Allah dengan bekal apa?
Ingatlah, setiap detak jantung kita adalah pengingat akan semakin dekatnya ajal. Setiap helaan nafas adalah titipan yang suatu saat akan diambil kembali. Tidakkah hati kita terpanggil untuk segera bertaubat nasuha? Tidakkah kita merindukan keindahan surga yang dijanjikan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh?
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita di jalan ketaatan, melapangkan hati kita untuk senantiasa rindu kepada-Nya, dan mengumpulkan kita kelak di dalam surga Firdaus-Nya. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.