Logo SantriDigital

Moderasi Dalam Beragama

Ceramah
H
Henny Purnianto
9 Mei 2026 5 menit baca 3 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ أَشْرَفِ ٱلْمُرْسَلِين...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ رَبِّ ٱلْعَالَمِينَ، وَٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ عَلَىٰ أَشْرَفِ ٱلْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَىٰ: (وَلَن تَسْتَطِيعُوا أَن تَعْدِلُوا بَيْنَ ٱلنِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ ٱلْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلْمُعَلَّقَةِ ...) [النساء: 129]. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. Hadirin sekalian, kaum muslimin, saudaraku sesama mukmin yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sungguh, sebuah kehormatan dan kebahagiaan luar biasa bagi saya pribadi, bisa berdiri di hadapan Bapak-Ibu sekalian, para tokoh agama, para alim ulama, para kiai, asatidz, asatidzah, yang senantiasa menjadi lentera bagi kampung kita tercinta ini. Tak lupa pula kepada seluruh hadirin sekalian, yang insya Allah senantiasa dicurahkan rahmat dan kasih sayang Allah. Syukur yang tak terhingga kita panjatkan ke hadirat Allah Azza Wa Jalla, karena atas limpahan nikmat-Nya, kita dapat berkumpul di majelis yang mulia ini. Mengagendakan satu diskusi yang sangat penting, yang amat relevan dengan kondisi zaman kita saat ini, yaitu "Moderasi Dalam Beragama". Sebuah tema yang, jika kita renungkan, memiliki kedalaman makna dan ujian yang luar biasa bagi setiap insan. Saudaraku sekalian, mari kita tengok sejenak diri kita. Seberapa jauh kita telah memahami hakikat beragama yang sesungguhnya? Agama kita, Islam, adalah agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Sebuah agama yang rahmatan lil 'alamin, pembawa rahmat bagi seluruh alam semesta. Namun, sejarah mencatat, di tangan sebagian umatnya, Islam menjadi sesuatu yang berbeda. Allah berfirman dalam Al-Qur'anul Karim, dalam surat Al-Baqarah ayat 143: وَلَـٰكِنْ مِثْلُكُمْ شُهَدَاءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا "Dan demikianlah Kami jadikan kamu (umat Islam) umat yang pertengahan (adil dan pilihan daripada umat-umat yang lain), agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." Ayat ini sungguh menusuk kalbu. Umat Islam adalah umat yang *wasathan*, umat pertengahan. Tengah-tengah. Bukan ke kanan terlalu jauh, bukan pula ke kiri terlampau condong. Tapi di posisi yang adil, seimbang, dan lurus. Dalam bahasa kita sehari-hari, itulah yang disebut moderat. Namun, seringkali kita melihat, atau bahkan mungkin kita sendiri terjerumus, ke dalam sikap yang melampaui batas. Teringat kisah tragis tentang bagaimana hati seorang ibu yang sangat mencintai anaknya, ia begitu khawatir akan keselamatan anaknya. Saking khawatirnya, ia bahkan tidak pernah membiarkan anaknya pulang ke rumah, takut akan bahaya di luar sana. Akhirnya, anak itu hidupnya terkatung-katung, tidak di dalam rumah sepenuhnya, namun juga tidak bisa merasakan kebebasan di luar. Terperangkap dalam kekhawatiran yang berlebihan. Begitulah kita dalam beragama. Ketika kita memahami Islam hanya dari satu sisi, dari satu sudut pandang, tanpa mau melihat sisi yang lain, tanpa mau memahami makna keluwesan dan kasih sayang yang diajarkan Nabi Muhammad ﷺ, maka kita akan terjebak seperti anak dalam kisah tadi. Kita bisa menjadi terlalu kaku, terlalu keras, sehingga menjauhkan orang dari agama. Atau sebaliknya, kita bisa menjadi terlalu longgar, sehingga mengabaikan prinsip-prinsip dasar agama, yang pada akhirnya justru merusak kemurnian ajaran. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim: إِنَّ ٱلدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ ٱلدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ "Sesungguhnya agama itu mudah. Dan tidaklah seseorang mempersulit agama, melainkan ia akan dikalahkan." Betapa halus teguran dari Rasulullah ﷺ. Ketika kita memaksakan diri untuk menjadi sangat ketat, sangat sulit, lalu kita merasa lebih baik dari orang lain, padahal hati kita dipenuhi kesombongan dan ketidakpedulian, justru itulah yang akan menjadi kehancuran kita. Kita akan kalah. Kalah oleh diri kita sendiri, kalah oleh tuntutan syariat yang sebenarnya tidak seberat yang kita bayangkan. Lihatlah bagaimana para ulama kita terdahulu. Mereka adalah penjaga agama, namun mereka senantiasa membuka diri terhadap perbedaan pendapat yang ada, selama masih dalam koridor keilmuan yang diakui. Imam Syafi'i rahimahullah, seorang ulama besar, pernah berkata: رَأْيِي صَوَابٌ يَحْتَمِلُ ٱلْخَطَأَ، وَرَأْيُ غَيْرِي خَطَأٌ يَحْتَمِلُ ٱلصَّوَابَ "Pendapatku benar, namun mungkin mengandung kesalahan. Dan pendapat orang lain salah, namun mungkin mengandung kebenaran." Subhanallah! Betapa agung akhlak beliau, betapa luas pemahamannya. Beliau mengakui kemungkinan dirinya keliru, dan membuka ruang bahwa orang lain pun bisa benar. Inilah esensi moderasi: kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan diri, dan keterbukaan untuk menghargai ilmu orang lain. Saudaraku, jangan sekali-kali kita menjadikan ayat-ayat atau hadits-hadits yang bersifat keras, sebagai alasan untuk bersikap keras pula kepada sesama. Ingatlah, Islam mengajarkan kita untuk berbakti kepada orang tua, bahkan jika mereka kafir, selama tidak menyuruh kita bermaksiat kepada Allah. Allah berfirman dalam surat Luqman ayat 15: وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًا "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." Dalam dunia ini, kita dituntut untuk bergaul dengan baik, bahkan kepada mereka yang berbeda keyakinan, selama mereka tidak memerangi kita dalam urusan agama. Inilah ajaran Islam yang sejati. Marilah kita merenung, Bapak-Ibu sekalian. Di desa kita ini, kita hidup berdampingan. Ada perbedaan latar belakang, perbedaan usia, perbedaan pandangan. Namun kita semua bersaudara dalam iman. Apakah kita akan membiarkan perbedaan kecil merusak jalinan persaudaraan kita? Apakah kita akan mengizinkan diri kita terprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah? Ingatlah, amalan seorang mukmin yang paling mulia adalah menjaga persatuan dan kesatuan umat. Jangan sampai kita menjadi orang yang pertama kali menebar permusuhan, apalagi dengan dalih agama. Sesungguhnya, orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Moderasi dalam beragama bukanlah berarti kita meninggalkan ajaran agama. Bukan pula berarti kita menjadi sekuler atau permisif terhadap kemungkaran. Sama sekali bukan. Moderasi adalah sikap proporsional. Menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Mengamalkan ajaran agama dengan penuh hikmah, dengan ketulusan, dan dengan kasih sayang. Mencontoh akhlak Rasulullah ﷺ yang lembut, yang pemaaf, namun tegas dalam menegakkan kebenaran. Mari kita tinggalkan segala bentuk kekerasan, segala bentuk kebencian, segala bentuk fanatisme buta yang hanya merusak nama baik agama kita. Mari kita kembali kepada ajaran Islam yang rahmatan lil 'alamin. Mari kita menjadi pribadi-pribadi yang beragama dengan moderat, yang damai dalam hati, damai dalam lisan, dan damai dalam perbuatan. Penutup dari saya, Bapak-Ibu sekalian. Mari kita jadikan pertemuan ini sebagai momentum untuk introspeksi diri. Mari kita perbaiki cara kita beragama. Jadikanlah kita umat yang senantiasa berada di jalan *wasathan*, umat pertengahan, yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa membimbing kita ke jalan yang lurus dan diridhai-Nya. Mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada tutur kata yang kurang berkenan, ada yang salah dalam penyampaian, ada yang khilaf dalam perkataan. Akhirul kalam, وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →