Logo SantriDigital

merawat kerukunan umat beragama dalam bingkai kebinekaan

Ceramah
I
Indah Rachmawati
5 Mei 2026 4 menit baca 3 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّي...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (الحجرات: 13) رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي Hadirin wal hadirat yang dirahmati Allah, Bapak-bapak, Ibu-ibu, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta seluruh warga desa yang saya muliakan. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah mempertemukan kita di majelis yang penuh berkah ini dalam keadaan sehat wal’afiat. Terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala kesempatan untuk kunna bersilaturahmi, berbagi sedikit ilmu, dan merajut kebersamaan. Hari ini, kita akan mengajak hati dan pikiran kita untuk merenungi sebuah tema yang sangat penting, tema yang menjadi denyut nadi kehidupan bermasyarakat kita di Indonesia, yaitu: "Merawat Kerukunan Umat Beragama dalam Bingkai Kebinekaan." Bapak, Ibu sekalian, Indonesia adalah negeri yang kaya. Kaya akan budaya, kaya akan suku, dan tentu saja kaya akan beragam agama dan keyakinan. Keberagaman ini bukanlah aib, melainkan sebuah anugerah yang luar biasa. Allah SWT sendiri dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 13 berfirman yang artinya, "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antaramu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan yang ada pada diri kita, baik itu suku, bangsa, bahkan agama, sejatinya adalah untuk saling mengenal, bukan untuk saling bermusuhan. Tujuan utama penciptaan kita yang beragam adalah agar kita dapat saling belajar, saling melengkapi, dan pada akhirnya mencapai derajat ketakwaan yang tinggi di hadapan Allah SWT. Dalam Islam, menjaga kerukunan antarumat beragama adalah sebuah kewajiban yang sangat ditekankan. Nabi Muhammad SAW bersabda: "مَنْ آذَى ذِمِّيًا فَأَنَا خَصْمُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ" (Riwayat Abu Daud) Artinya: "Siapa saja yang menyakiti orang kafir dzimmi (non-Muslim yang hidup damai di negara Islam), maka akulah lawannya pada hari kiamat." Hadis ini menunjukkan betapa Islam sangat melindungi hak-hak non-Muslim yang hidup berdampingan secara damai. Ini adalah bukti nyata bahwa ajaran Islam sangat menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan. Kondisi desa kita, dengan masyarakatnya yang beragam, adalah cerminan indahnya Indonesia. Kita hidup bertetangga, bekerja sama, saling membantu dalam suka maupun duka, tanpa memandang perbedaan agama. Inilah esensi dari kebinekaan yang harus kita jaga. Kerukunan ini terwujud tatkala kita mampu mengamalkan pesan Al-Qur'an dan tuntunan Nabi Muhammad SAW. Bagaimana cara merawat kerukunan tersebut? Pertama, adalah dengan saling menghargai. Hargai keyakinan dan ajaran agama orang lain, sebagaimana kita ingin keyakinan kita dihargai. Larangan dalam Islam pun sudah jelas, seperti firman Allah SWT: وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ (Al-An'am: 108) Artinya: "Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan permusuhan tanpa ilmu." Kedua, saling tolong-menolong dalam kebaikan. Tatkala ada tetangga kita, siapapun agamanya, yang membutuhkan pertolongan, seperti saat ada bencana atau kesulitan, mari kita ulurkan tangan. Kita bisa bersinergi dalam kegiatan sosial yang bermanfaat bagi lingkungan kita. Ketiga, menjauhi provokasi dan fitnah. Di era informasi seperti sekarang, mudah sekali berita bohong atau isu yang dapat memecah belah menyebar. Mari kita jadi masyarakat yang cerdas, tabayyun (memverifikasi) setiap informasi sebelum menyebarkannya, dan tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin merusak kerukunan. Keempat, memupuk persatuan dan kesatuan. Ingatlah, bahwa di atas semua perbedaan, kita adalah anak bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Musuh bersama kita adalah kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan. Mari kita fokus pada hal-hal yang mempersatukan, bukan memecah belah. Bapak, Ibu sekalian, merawat kerukunan umat beragama dalam bingkai kebinekaan bukanlah tugas satu golongan saja, melainkan tugas kita bersama. Dengan menjaga kerukunan, insya Allah desa kita akan menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, negeri yang aman, tenteram, dan dirahmati Allah SWT. Mari kita jadikan keberagaman ini sebagai kekuatan, bukan kelemahan. Mari kita terus hadirkan kedamaian, kasih sayang, dan saling menghormati di antara kita. Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga Allah SWT senantiasa menjaga kerukunan dan persatuan kita. Kurang lebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →