Logo SantriDigital

meraih keberkahan kurban

Khutbah Jumat
M
Mukty ali yahya
5 Mei 2026 5 menit baca 3 views

أَلَا إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَ...

أَلَا إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Hari ini, di bawah naungan langit yang sama, kita berkumpul, hati kita bergetar, merangkai doa dan harapan. Sungguh, dunia ini adalah persinggahan sementara, sebuah jalan yang terbentang menuju keabadian. Apakah kita telah mempersiapkan perbekalan yang cukup untuk perjalanan panjang itu? Atau malah kita terlena oleh gemerlap dunia yang fana, melupakan bekal utama untuk menghadap Sang Maha Pencipta? Air mata yang jatuh karena kesadaran, jauh lebih berharga daripada tawa yang terlena dalam kelalaian. Mari kita renungkan sejenak, di hadapan keagungan Allah Yang Maha Pengasih, adakah hati kita yang masih terbungkus kerikil dosa, adakah jiwa kita yang terbelenggu oleh kesesatan? Kita berada di penghujung hari-hari yang mulia, hari-hari yang disyariatkan bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah kurban. Kurban, bukan sekadar menyembelih hewan, ia adalah ujian keimanan, penyerahan diri yang paling total. Ia adalah bisikan dari masa lalu seorang bapak yang rela mengorbankan buah hatinya demi perintah Rabb-nya, Nabi Ibrahim AS. Sungguh, betapa berat ujian itu, namun iman beliau meluluhkan setiap keraguan. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: "Dan tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama-samanya, Ibrahim berkata: 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?' Dia menjawab: 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'." (QS. Ash-Shaffat: 102). Ya, sabar dalam ketaatan, sabar dalam cobaan. Maukah kita meneladani kesabaran mereka, meniru ketulusan mereka yang siap mengorbankan apa saja demi ridha Allah? Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Kurban adalah ungkapan cinta kita yang paling tulus kepada Allah. Apakah cinta kita sebatas lisan, ataukah sudah merasuk ke dalam setiap denyut nadi kehidupan kita? Allah tidak membutuhkan darah hewan kurban kita, hanya ketakwaan kita yang sampai kepada-Nya. Allah berfirman: "Daging unta dan darahnya sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi yang dapat mencapainya ialah takwa kamu. Demikianlah Allah telah menundukkannya untukmu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Hajj: 37). Lihatlah, yang dicari Allah adalah ketakwaan! Ketakwaan yang hadir dalam hati, menggerakkan anggota badan untuk taat, menghindarkan diri dari segala larangan-Nya. Adakah ketakwaan itu bersemayam dalam dada kita, ataukah hanya sekadar hiasan semata? Betapa sering hati kita tergoda oleh buaian dunia, terbuai oleh kenikmatan sesaat, melupakan tangisan anak yatim, melupakan tetangga yang kelaparan, melupakan panggilan Allah yang merayu kita untuk berbuat kebaikan. Kurban adalah momen untuk membersihkan hati dari kerak-kerak egoisme, untuk membuka pintu rahmat Allah, untuk menghidupkan kembali ruh persaudaraan. Ingatlah Hadits Nabi Muhammad SAW: "Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah daripada menumpahkan darah (kurban). Sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah itu akan sampai kepada Allah sebelum jatuh ke bumi, maka sucikanlah diri-diri kamu dengannya." (HR. Tirmidzi). Darah kurban itu akan menjadi saksi di hadapan Allah. Apakah ia akan menjadi saksi keikhlasan kita, atau ia akan menjadi saksi bisu atas kelalaian kita? Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Mari kita tatap wajah-wajah fakir miskin yang menanti uluran tangan kita. Mereka adalah amanah dari Allah, ujian bagi kekayaan yang kita miliki. Kurban yang kita tunaikan, jangan sampai hanya menjadi tradisi semata, sekadar pamer harta, atau bahkan terkesan riya'. Sungguh, betapa sedihnya jika kurban yang seharusnya mendekatkan kita kepada Allah, justru menjauhkan kita karena niat yang tidak ikhlas. Nabi Muhammad SAW bersabda: "Barangsiapa yang berqurban dengan niat karena Allah, maka ia akan mendapatkan pahala dari qurbannya, dan ia akan menjadi penebus dari api neraka." (HR. Ibnu Majah). Penebus dari neraka! Siapa di antara kita yang tidak merindukan keselamatan dari siksa api neraka yang membakar, yang panasnya tujuh puluh kali lipat dari panas api dunia? Air mata kesadaran inilah yang kita butuhkan, tangisan yang membersihkan jiwa, tangisan yang menghantarkan kita kepada rahmat-Nya. Bayangkanlah diri kita kelak di yaumil qiyamah, saat kaki-kaki tergelincir, saat amal-amal dihisab. Apakah kita siap menghadapi-Nya dengan tangan kosong, dengan hati yang penuh penyesalan? Kurban yang kita tunaikan dengan sungguh-sungguh, dengan penuh keikhlasan dan kerinduan untuk bertemu Allah, insya Allah akan menjadi cahaya yang menerangi jalan kita, menjadi penolong di saat-saat krusial. Ingatlah, setiap tetes darah yang mengalir, setiap helai bulu yang rontok, akan menjadi saksi bisu dari pengorbanan kita. Biarlah tangisan kita hari ini menjadi penyejuk jiwa di akhirat kelak. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Jangan biarkan kesempatan mulia ini terlewat begitu saja. Jangan biarkan hati kita tertutup oleh kesibukan duniawi hingga lupa akan panggilan Ilahi. Marilah kita bermuhasabah, merenungi setiap detik kehidupan yang telah berlalu. Apakah kita telah memberikan yang terbaik untuk-Nya? Ibadah kurban ini adalah momentum emas untuk memperbaiki diri, untuk menebus kesalahan, untuk menggapai cinta-Nya. Sungguh, rahmat Allah itu begitu luas, pintu taubat selalu terbuka. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari, ketika kesempatan itu telah hilang. Air mata penyesalan yang tak berujung, takkan pernah bisa mengembalikan waktu yang telah terbuang. Biarlah sisa-sisa hidup ini kita isi dengan ketaatan, dengan kerendahan hati di hadapan-Nya. Mari kita jadikan ibadah kurban ini sebagai titik tolak untuk terus meningkatkan kualitas diri, untuk menjadi hamba yang senantiasa rindu akan pertemuan dengan-Nya, yang senantiasa takut akan siksa-Nya, dan senantiasa berharap akan surga-Nya. Semoga Allah menerima segala amal ibadah kita, mengampuni segala dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →