Menjelang pilkades 2026
Khutbah Jumat
M
Muhammad Taufik
4 Mei 2026
5 menit baca
3 views
أَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ...
أَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mari kita renungkan sejenak, sebentar saja. Kita ini hidup di dunia yang singkat ini, seperti keong yang sedang merangkak di atas daun talas. Kadang kita merasa aman, merayap santai, lupa kalau daun itu pun bisa kering, bisa tertiup angin, atau bahkan... *jeblos*! Tapi jangan khawatir, kita ini bukan keong yang pasrah. Kita punya Allah, Sang Maha Pencipta, yang ngasih kita akal buat berpikir dan hati buat merasa. Udah gitu, dikasih syariat pula, biar kita nggak tersesat ke jalan yang salah, kayak orang kesasar di pasar malam bingung nyari toilet.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Bayangkan! Sebentar lagi tahun 2026. Ah, 2026 itu apa sih? Apa itu tanggal kadaluarsa kita? Siapa yang tahu? Kadang kita sibuk mikirin siapa yang bakal jadi kepala desa, siapa yang bakal jadi bupati, biar dapet proyek APBD, biar bisa numpang *selfie* keren di gedung baru. Padahal, yang lebih penting, siapa yang bakal jadi *bos* kita di akhirat nanti? Siapa yang bakal jadi *hakim* atas segala amal perbuatan kita? Ya, Allah! Dialah Sang Penguasa Mahatinggi, yang kebijakannya lebih dahsyat dari SK mutasi direktur.
Dengarlah firman-Nya, yang kalau kita resapi, bisa bikin bulu kuduk berdiri kayak rambut yang kebanyakan pakai gel. Allah SWT berfirman: "يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ" (Surat Al-Hajj ayat 1). Artinya, "Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar." Kegoncangan hari kiamat, saudara-saudara! Bukan kegoncangan kursi waktu ada yang iseng goyang-goyang. Ini kegoncangan yang bikin gunung berapi berjoget, laut mendidih, bumi bersuaksi bak adonan roti!
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kita ini lagi sibuk nyiapin segala macam buat pilkades. Pasang spanduk, bagi-bagi kaos, kadang ada yang bagi sembako, *eh*, jangan-jangan sama, sama-sama buat ngisi perut biar semangat milih. Tapi, pernahkah kita nyiapin diri buat 'pilkades' yang lebih besar? 'Pilkades' di mana kita berhadapan langsung sama Allah SWT? Saat itu, nggak ada tim sukses, nggak ada juru kampanye. Yang ada cuma amal kita sendiri. Kalau amal kita bagus, ya paling kita dapat pahala surga yang jernihnya kayak air mineral kemasan premium, dinginnya pas, segarnya bikin lupa sama utang. Tapi kalau sebaliknya? Waduh... jangan sampai deh!
Rasulullah SAW pernah bersabda, yang kalau didengar sama para politisi, mungkin pada minggir dulu sebentar dari panggung politik dadakan. Sabdanya: "إذا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ" (HR. Bukhari). Artinya, "Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari kiamat." Amanah ini luas, lho! Bukan cuma amanah jadi lurah atau gubernur. Amanah jadi orang tua, amanah jadi suami, istri, amanah jadi teman, bahkan amanah jadi manusia yang dikasih akal. Dikasih amanah buat nggak nyakitin orang, dikasih amanah buat nggak ngomong jorok, eh malah dipakai buat *hoax* dan *bully* di medsos. Nauzubillahi min dzalik!
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kadang kita suka lucu ya. Kalau ada calon yang ngasih janji manis, katanya mau bangun jembatan, padahal jembatan itu udah dari zaman nenek moyang kita ada. Kita percaya aja, kayak anak kecil percaya ada peri gigi di bawah bantal. Lupa kita kalau yang paling hakiki, yang paling kokoh, itu adalah janji Allah. Allah nggak pernah ingkar janji. Dia bilang siapa yang berbuat baik akan dapat balasan kebaikan. Sesederhana itu. Jangan sampai kita sibuk ngejar janji manusia yang belum tentu ditepati, tapi melupakan janji Zat yang Maha Kuasa.
Pernah bayangin nggak, kalau pas kita lagi kampanye, tiba-tiba dari atas ada suara, "Hey, kamu lagi ngapain? Urus tuh yang lebih penting!" Pasti kaget kan? Nah, itu yang bakal terjadi nanti. Allah SWT mengingatkan kita, "وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ" (Surat Az-Zumar ayat 54). Artinya, "Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan (mengerjakan) ketaatan kepadanya, dan berserah dirilah kepadanya sebelum datang azab kepadamu yang kemudian kamu tidak dapat ditolong." Allah manggil kita dari atas sana, bukan buat ngasih *sound system* paling canggih buat orasi, tapi buat ngingetin, "Ayo sini, pulang ke rumah-Ku. Jangan main-main terus di dunia yang sementara ini."
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kematian itu ibarat 'pemilu' terakhir kita. Nggak ada calon, nggak ada coblosan. Hasilnya pun udah ditentukan dari 'survei' amal kita selama hidup. Kalau kita selama ini sibuk ngerjain amal baik, ngejar ridha Allah, ya pas pencoblosan terakhir itu, kita bakal senyum sumringah. Keluar dari bilik suara (maksudnya kubur), disambut bidadari cantik, dikasih buku catatan amal tangan kanan, lengkap dengan *doorprize* surga. Tapi kalau sebaliknya? Wah, bisa-bisa pas nyoblos, pulpennya macet, kertasnya sobek, terus keluar dari bilik suara dihadapkan sama malaikat penjaga neraka yang mukanya garang kayak debt collector nagih utang kartu kredit. Nauzubillah!
Jadi, para bapak, ibu, hadirin sekalian yang dirahmati Allah. Mari kita ubah fokus kita. Dari memikirkan siapa yang akan memimpin kita di bumi, menjadi memikirkan siapa yang akan memimpin kita di akhirat. Mari kita isi waktu yang ada ini, bukan untuk merencanakan kampanye yang menguras energi dan dompet, tapi merencanakan perjalanan pulang kita menghadap Sang Maha Pencipta. Mari kita perbaiki kualitas diri, perbaiki ibadah kita, perbaiki hubungan kita dengan sesama, agar kelak di hadapan Allah, kita bukan tergolong orang-orang yang menyesal.
Sedikit lagi, mari kita gunakan jeda ini untuk merenung sejenak. Bernafas dalam-dalam. Rasakan detak jantung kita. Adakah ia berdetak untuk ketaatan? Adakah kesadaran kita tertuju pada Rabb kita? Mari kita renungkan. Suara azab itu begitu mengerikan, namun suara kasih sayang Allah lebih indah dari lantunan musik apapun. Mana yang kita pilih?
Bârakallâhu lî wa lakum fil qur'ânil 'azîm, wa nafa'anî wa iyyâkum bimâ fîhi minal âyâti wad-dzikril hakîm. Aqûlu qawlî hâdhâ wa astaghfirullâhal 'azîma lî wa lakum wa li sâ'iril muslimîn wal muslimât, fastaghfirûhu innahu huwal ghafûrur rahîm.