menjaga konsistensi diri meraih ridho ilahi
Khutbah Jumat
H
Henny Purnianto
9 Mei 2026
4 menit baca
3 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ ...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: "يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ."
Hadirin sekalian yang dirahmati Allah,
Di hadapan kita terbentang luas samudera kehidupan. Kadang ia tenang membiru, namun tak jarang bergelora ganas, mengancam untuk menenggelamkan kita dalam arus kelalaian dan dosa. Di antara riuhnya gelombang itu, ada panggilan suci, bisikan lembut dari Sang Pencipta, agar kita terus berpegang teguh pada tali-Nya, menjaga komitmen diri, untuk meraih satu tujuan mulia: ridho Ilahi.
Namun, betapa sering hati ini terombang-ambing. Betapa rapuhnya tekad kita. Pagi ini kita bersemangat dalam ibadah, lantas sorenya terseret oleh hawa nafsu. Malam kita berjanji pada diri untuk menjadi lebih baik, namun esoknya kembali terjerumus dalam lubang yang sama. Konsistensi, wahai saudaraku, adalah permata yang sangat langka. Ia bukan sekadar niat tulus, bukan pula sekadar semangat membara sesaat, melainkan aliran ruhani yang tak pernah putus, aliran amal saleh yang terus mengalir seiring waktu, meski tak terlihat gemerlapnya.
Lihatlah bagaimana Allah Swt. berfirman dalam kitab-Nya yang mulia, sebuah peringatan sekaligus penegasan akan pentingnya keteguhan:
"وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا" (An-Nahl: 92)
"Dan janganlah kamu menjadi seperti perempuan yang menguraikan benangnya, setelah ia memintalnya dengan kuat."
Ayat ini, hadirin, bagai cambuk yang menyentak kesadaran kita. Betapa banyak amal kebaikan yang telah kita bangun dengan susah payah, seolah rantai keimanan yang kokoh, namun kita uraikan kembali dengan kelemahan sesaat. Sekali berbuat dosa, seolah semua amalan baik kita terhapus. Sekali terpeleset, seolah dunia terasa runtuh. Padahal, Allah Maha Pengasih, Maha Penerima taubat. Yang Dia inginkan dari kita adalah keteguhan, konsistensi dalam meniti jalan taqwa, bukan kesempurnaan yang kosong dari ujian.
Bayangkanlah, wahai saudaraku, seorang pelari maraton. Ia tidak hanya berlari kencang di awal. Ia menjaga ritme, mengatur napas, dan terus melangkah meski lelah mendera, karena ia tahu, kemenangan ada di garis finis. Begitulah seharusnya kita dalam menempuh perjalanan menuju Allah. Bukan sekadar semangat di awal Ramadhan, bukan sekadar giat saat mendengar tausiyah yang menyentuh, tapi terus menerus menjaga jejak langkah kita di jalan kebenaran.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah…
Ingatlah kisah para sahabat Nabi. Sebagian dari mereka, di awal keislaman, masih membawa belati ke medan perang, masih ada sisa-sisa kejahiliahan. Namun, dengan konsistensi mereka dalam belajar, beribadah, dan berjihad di bawah bimbingan Rasulullah ﷺ, mereka menjelma menjadi cahaya yang menerangi dunia. Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang terus membela Rasulullah di setiap situasi. Umar bin Khattab, yang kegigihannya dalam menegakkan keadilan menjadi legenda. Utsman bin Affan, yang kedermawanannya tak pernah surut. Ali bin Abi Thalib, yang ilmunya dan keberaniannya tak tertandingi. Mereka tidak sempurna sejak awal, namun konsistensi mereka dalam taqwa dan keridhoan pada Allah-lah yang mengangkat derajat mereka.
Lalu, bagaimana dengan kita? Adakah kita rela membiarkan diri ini terus menerus dikalahkan oleh kemalasan? Dirundung oleh keraguan? Terjerat oleh godaan sesaat? Sungguh, hati ini menangis meratapi kelabilan diri. Sungguh, jiwa ini meraung memohon ampun atas ketidakberdayaan kita mempertahankan cahaya iman.
Konsistensi, saudaraku, bukanlah beban yang berat jika kita memandangnya sebagai investasi akhirat. Ia adalah penegasan cinta kita kepada Allah yang tak hanya diucapkan lisan, tapi dibuktikan dalam setiap denyut nadi, dalam setiap tarikan napas. Ia adalah pengakuan bahwa dunia ini hanyalah persinggahan, dan ridho Allah adalah tujuan akhir yang paling berharga.
Maka, mari kita mulai hari ini. Jika kemarin kita tersandung, janganlah berputus asa. Bangkitlah. Perbaiki niat. Perkuat tekad. Lakukan kembali kebaikan sekecil apapun. Istiqamahlah dalam shalat, dalam dzikir, dalam membaca Al-Qur'an, dalam berbakti kepada orang tua, dalam berkata jujur. Lakukanlah terus menerus, meski terkadang terasa berat. Karena sesungguhnya, di situlah letak keberkahan. Di situlah letak keridhoan-Nya.
Pukulan pedih penyesalan ini haruslah menggerakkan kita. Bukan untuk larut dalam kesedihan yang mematikan, tapi untuk bangkit dengan semangat baru, menggenggam erat erat janji kita pada Allah, agar tahun depan, bulan depan, bahkan detik ini, kita menjadi pribadi yang lebih baik, pribadi yang dijaga konsistensinya, pribadi yang dirahmati dan diridhoi oleh Allah Rabbul 'alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.