Logo SantriDigital

menjadi muslim yang beruntung

Ceramah
I
Indah Rachmawati
4 Mei 2026 4 menit baca 3 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: ﴿وَمَنْ يُطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا﴾ (الأحزاب: 71) رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. Hadirin sekalian, bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudari yang dirahmati Allah, khususnya kepada Bapak Kepala Desa yang kami hormati, para tokoh agama, para alim ulama, Bapak/Ibu perangkat desa, serta seluruh jamaah yang berbahagia. Sungguh suatu kehormatan bagi saya untuk bisa hadir di tengah-tengah Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian pada kesempatan yang penuh berkah ini. Semoga kehadiran kita di majelis ilmu ini dicatat sebagai amal shalih di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Hari ini, kita akan bersama-sama merenungkan sebuah tema yang sangat fundamental dalam kehidupan seorang Muslim, yaitu "Menjadi Muslim yang Beruntung". Apa arti keberuntungan? Dalam pandangan duniawi, keberuntungan seringkali diukur dengan materi, kedudukan, atau kesenangan sesaat. Namun, dalam Islam, keberuntungan memiliki makna yang jauh lebih luas dan abadi. Keberuntungan sejati adalah ketika kita meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan keselamatan dari siksa neraka. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an, surah Al-Ahzab ayat 71: "Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah memperoleh kemenangan yang besar." Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa kunci keberuntungan yang hakiki adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan ini bukan sekadar ibadah ritual seperti shalat, puasa, dan zakat, melainkan juga mencakup seluruh aspek kehidupan kita, mulai dari cara kita berinteraksi dengan sesama, mengelola rezeki, hingga menjaga lisan dan perbuatan. Bagaimana mewujudkan ketaatan ini dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa kita? Pertama, dengan senantiasa menjaga shalat lima waktu secara berjamaah. Shalat adalah tiang agama. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Perkara pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka ia akan beruntung dan sukses. Jika shalatnya buruk, maka ia akan celaka dan merugi." (HR. Tirmidzi) Mari kita hadirkan diri kita di masjid, di musholla, tidak hanya saat ada acara, tapi secara rutin. Ini adalah investasi keberuntungan kita. Kedua, dengan berakhlakul karimah. Islam mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang baik, jujur, amanah, peduli terhadap tetangga, dan menjaga silaturahmi. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Tirmidzi) Bayangkan, jika di desa kita ini semua tetangga saling peduli, saling menolong, tidak ada perselisihan karena masalah sepele, bukankah itu sudah menjadi gambaran surga di dunia? Itulah keberuntungan yang harus kita ciptakan bersama. Ketiga, dengan menuntut ilmu dan mengajarkan kebaikan. Pengetahuan tentang agama membuat kita tidak mudah terombang-ambing oleh isu-isu yang menyesatkan. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam: "Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim) Mungkin hari ini kita belum bisa hadirkan ustaz-ustaz besar, tapi kita bisa belajar dari tokoh agama yang ada di desa kita, membaca buku-buku agama yang terpercaya, atau mengikuti kajian-kajian di televisi dan radio. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus belajar dan mengamalkan apa yang dipelajari. Keberuntungan sejati bukanlah datang tiba-tiba seperti lotere, melainkan hasil dari usaha yang sungguh-sungguh dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Mari kita renungkan, sudah sejauh mana kita berusaha meraih keberuntungan hakiki ini? Apakah kita hanya mengejar keberuntungan duniawi yang sifatnya sementara, ataukah kita juga menanam benih-benih keberuntungan untuk akhirat kelak? Intinya, menjadi muslim yang beruntung adalah menjadi muslim yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya secara totalitas, yang tercermin dalam ibadah, akhlak, dan muamalah kita sehari-hari. Mari kita jadikan desa kita ini sebagai tempat yang penuh keberkahan, dengan senantiasa menjalankan ajaran Islam. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa memberikan kita kemudahan dalam menjalankan ketaatan, memperbaiki akhlak kita, dan mengumpulkan kita di dalam surganya. Untuk itu, marilah kita bersama-sama berdoa: Ya Allah, Tuhan kami, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu keberuntungan dunia dan akhirat. Ya Allah, mudahkanlah bagi kami untuk menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu. Ampunilah segala dosa dan kesalahan kami. Jadikanlah kami umat yang senantiasa berpegang teguh pada agamamu. Aamiin Ya Rabbal 'alamin. Terima kasih atas perhatian Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan atau ada khilaf dari saya pribadi. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →