menghindari ghibah dan fitnah
Ceramah
I
Indah Rachmawati
4 Mei 2026
4 menit baca
3 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Alhamdulillahilladzi nahmadanhu wanasta’inuhu wanastaghfiruh. Wa nauzubillahi min syururi anfus...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Alhamdulillahilladzi nahmadanhu wanasta’inuhu wanastaghfiruh. Wa nauzubillahi min syururi anfusina wa min sayyi’ati a’malina. Man yahdihillahu fala mudilla lah, wa man yudlil fala hadiya lah. Wa asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Ya ayyuhalladzina amanu taqullaha haqqo taqatihi wala tamutunna illa wa antum muslimun.
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Yang terhormat para alim ulama, para tokoh masyarakat, para sesepuh, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari sekalian yang saya cintai karena Allah.
Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang telah mempertemukan kita di majelis yang penuh berkah ini. Sungguh sebuah karunia yang tak ternilai dapat berkumpul dalam keadaan sehat walafiat, diberi kesempatan untuk menuntut ilmu dan merenungkan kebesaran-Nya. Semoga kehadiran kita di sini dicatat sebagai amal ibadah yang diterima oleh Allah Subhanallahu Wa Ta'ala.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, izinkan saya untuk menyampaikan sedikit kajian mengenai dua hal yang seringkali menjadi penyakit lisan dan hati kita, yaitu ghibah dan fitnah. Dua hal ini, jika tidak kita waspadai, bisa menjerumuskan kita ke dalam jurang dosa yang besar dan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat.
Hadirin sekalian, apa itu ghibah? Sederhananya, ghibah adalah membicarakan keburukan orang lain di belakangnya, meskipun apa yang kita bicarakan itu benar adanya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 12:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ}
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antaramu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."
Ayat ini sangat tegas. Allah menyamakan ghibah dengan memakan daging saudara yang sudah mati. Bayangkan betapa mengerikannya perumpamaan ini. Daging saudara yang sudah mati, tentu kita merasa jijik untuk memakannya. Begitu pula lisan kita, seharusnya merasa jijik untuk menggunjing saudara kita. Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim:
"Setiap orang Islam atas setiap orang Islam yang lain adalah haram (melindungi) darahnya, hartanya dan kehormatannya."
Sedangkan fitnah, ia lebih keji lagi. Fitnah adalah penyebaran kebohongan atau tuduhan palsu tentang seseorang. Fitnah itu seperti api yang membakar habis segala kebaikan, menghancurkan reputasi seseorang bahkan merusak hubungan antar sesama. Seburuk-buruknya manusia adalah yang suka menyebar fitnah. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tiada masuk surga orang yang mengadu domba (menyebar fitnah)."
Mari kita renungkan, Saudara-saudari sekalian. Di desa kita, di lingkungan kita, bukankah seringkali kita mendengar cerita-cerita yang belum tentu benar? Seringkali kita ikut nimbrung dalam pembicaraan yang mengupas aib orang lain? Tanpa kita sadari, lisan kita telah terjerumus dalam lubang ghibah dan fitnah. Padahal, ghibah dan fitnah ini bisa menyebabkan permusuhan, kebencian, dan perpecahan di antara kita.
Ulama besar, Al-Ghazali rahimahullah, pernah menjelaskan bahwa dosa ghibah dan fitnah ini luar biasa beratnya. Bahkan, pada hari kiamat kelak, amal kebaikan orang yang suka berghibah dan memfitnah akan diberikan kepada orang yang ia ghibahi dan fitnah. Sungguh sebuah kerugian besar bagi diri kita sendiri.
Bagaimana cara kita menghindari ghibah dan fitnah ini? Pertama, dengan menjaga lisan kita. Sebelum berkata, pikirkan dulu dampaknya. Apakah ucapan kita bermanfaat? Apakah ucapan kita membangun? Atau justru merusak? Alihkan pembicaraan jika mulai mengarah pada ghibah atau fitnah. Yang kedua, perkuat keimanan kita. Ingatlah bahwa Allah selalu mengawasi setiap ucapan dan perbuatan kita. Yang ketiga, perbanyak zikir dan istighfar. Dengan mengingat Allah, hati kita akan terjaga dari niat buruk untuk membicarakan keburukan orang lain.
Mari kita ambil pelajaran dari kisah para sahabat. Mereka sangat berhati-hati dalam setiap ucapan mereka. Mereka tahu betul bahaya lisan yang tidak dijaga. Kehidupan bermasyarakat kita akan lebih harmonis, damai, dan penuh berkah jika kita semua bisa saling menjaga lisan, saling menutupi aib saudara, dan tidak mudah percaya pada isu-isu yang belum jelas kebenarannya.
Hadirin sekalian yang dirahmati Allah, dari kajian singkat ini, mari kita berkomitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Lisan yang terjaga adalah cerminan hati yang bersih. Mari kita jadikan lisan kita sebagai alat untuk berdzikir, bershalawat, berdakwah, dan menyampaikan kebaikan. Jauhi ghibah dan fitnah, demi meraih ridha Allah dan kebahagiaan dunia akhirat.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa membimbing kita agar senantiasa berada di jalan yang lurus, menjauhkan kita dari perbuatan ghibah dan fitnah, serta menjadikan lisan kita senantiasa basah dengan dzikir dan kebaikan. Aamiin Yaa Rabbal 'Alamiin.
Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kata-kata yang kurang berkenan, khilaf dan salah dalam penyampaian. Terima kasih atas perhatiannya.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ