mengenang dakwah nabi musa pada bulan muharrom
Ceramah
I
Indah Rachmawati
4 Mei 2026
4 menit baca
4 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: {وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ} (إبراهيم: 5). رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yang terhormat, para alim ulama, para kyai, para asatidz, asatidzah. Yang kami muliakan, segenap tokoh masyarakat, para sesepuh, dan Bapak-bapak, Ibu-ibu, hadirin sekalian yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga pada malam hari yang berbahagia ini kita dapat berkumpul dalam majelis ilmu yang mulia ini. Shalawat serta salam tak lupa kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Hari ini, di bulan Muharram yang penuh keberkahan ini, kita diingatkan kembali akan kisah-kisah teladan dari para nabi, khususnya kisah dakwah Nabi Musa Alaihissalam. Bulan Muharram ini bukan hanya sekadar pergantian tahun hijriyah, tetapi juga momen untuk mengambil ibrah dan pelajaran penting dari sejarah perjuangan para utusan Allah.
Bapak, Ibu sekalian yang dirahmati Allah,
Nabi Musa Alaihissalam diutus oleh Allah untuk menghadapi Firaun, seorang penguasa zalim yang mengaku dirinya Tuhan. Dakwah Nabi Musa dimulai dengan membawa mukjizat-mukjizat yang jelas dari Allah, seperti tongkat yang berubah menjadi ular dan tangan yang bercahaya. Namun, Firaun dan kaumnya tetap ingkar dan sombong. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-A'raf ayat 103-104:
{ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَظَلَمُوا بِهَا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ * وَقَالَ مُوسَىٰ يَا فِرْعَوْنُ إِنِّي رَسُولٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ}
"Kemudian setelah mereka (Nabi-nabi sebelumnya), Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Firaun dan kaumnya, lalu mereka berbuat zalim kepada ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan berkatalah Musa: "Hai Firaun, sesungguhnya aku ini adalah seorang rasul dari Tuhan semesta alam"."
Dari kisah ini, kita dapat mengambil pelajaran penting. Pertama, konsistensi dalam dakwah. Nabi Musa tidak pernah gentar menghadapi Firaun yang berkuasa dan zalim. Beliau senantiasa menyampaikan kebenaran dengan penuh keberanian dan kesabaran. Hal ini mengajarkan kita untuk tidak ciut nyali dalam menyebarkan kebaikan dan kebenaran di lingkungan kita, meskipun ada berbagai rintangan dan godaan.
Kedua, pentingnya mukjizat dan bukti nyata dalam berdakwah. Mukjizat yang dibawa Nabi Musa bukanlah sihir, melainkan tanda-tanda kebesaran Allah yang memperkuat argumen kenabiannya. Dalam konteks kita saat ini, dakwah tidak hanya sebatas lisan, tetapi juga perbuatan yang mencerminkan ajaran Islam yang luhur. Akhlak yang mulia, kejujuran, amanah, dan kemanfaatan bagi sesama adalah "mukjizat" kita di tengah masyarakat. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:
"أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا"
"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya."
Ketiga, kesabaran dalam menghadapi ujian dan cobaan. Perjuangan Nabi Musa tidak mudah. Ia dan kaumnya seringkali diuji dengan penderitaan dan ancaman. Namun, kesabaran mereka membuahkan hasil. Allah menolong mereka keluar dari penindasan Firaun. Ini mengingatkan kita bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Penting untuk bersabar dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, terutama dalam menghadapi kesulitan hidup sehari-hari yang mungkin sama dengan apa yang dirasakan oleh masyarakat pedesaan seperti kita. Ingatlah firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 153:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ}
"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."
Hadirin sekalian,
Memperingati dakwah Nabi Musa di bulan Muharram ini, mari kita introspeksi diri. Sudah sejauh mana kita mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan kita? Sudahkah lisan kita senantiasa mengajak kepada kebaikan? Sudahkah perbuatan kita mencerminkan akhlak mulia yang diajarkan Rasulullah?
Pada bulan Muharram ini, mari kita jadikan momentum untuk memperbaharui tekad. Kita terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, lebih taat kepada Allah, lebih bermanfaat bagi sesama, dan lebih sabar dalam menghadapi cobaan hidup. Mari kita sebarkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan dengan cara yang bijak, penuh hikmah, dan meneladani perjuangan Nabi Musa Alaihissalam.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa mencurahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin ya rabbal alamin.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada tutur kata yang kurang berkenan dan kekhilafan yang disengaja maupun tidak disengaja. Terima kasih atas perhatiannya.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.