men jaga lisan
Khutbah Jumat
D
Didin komarudin
7 Mei 2026
4 menit baca
3 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. ...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Hadirin sekalian, kaum muslimin yang berbahagia karena rahmat Allah,
Hari ini, jiwa kita dipanggil untuk merenung, untuk menggali lebih dalam rahasia hati yang tergambar melalui ucapan lisan. Betapa seringnya kita alpa, betapa seringnya kita terlena dalam arus kata-kata yang tak terkendali. Lidah kita, oh lidah kita, ia adalah pedang bermata dua. Ia bisa menjadi jembatan menuju surga, namun ia juga bisa menjadi jalan pintas menuju neraka yang membara. Betapa sedihnya hati ini saat teringat betapa banyak dosa yang terlahir dari celotehan yang tak terhitung.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam." (Muttafaq 'alaih). Renungkanlah hadits yang mulia ini. Ia bukan sekadar anjuran, melainkan sebuah rambu peringatan bagi setiap jiwa yang merindukan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Berkata baik, atau diam. Betapa sederhana namun begitu mendalam maknanya. Apakah kita mampu melaksanakannya? Ataukah kita lebih sering memilih untuk tenggelam dalam lautan ucapan yang sia-sia, yang menyakitkan, yang merusak, yang menghancurkan?
Ingatlah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surah Al-Qalam ayat 11:
"Dan janganlah kamu mengikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina."
Ayat ini mengingatkan kita akan bahaya bergaul dengan orang-orang yang lisannya tidak terjaga, yang gemar mengumbar sumpah dusta, yang perilakunya tercela. Namun, lebih jauh lagi, ayat ini juga menjadi cerminan bagi diri kita sendiri. Bukankah kita seringkali menjadi bagian dari mereka yang lisannya tak terkendali? Sumpah palsu, perkataan dusta, ghibah, namimah, ujaran kebencian, semua itu adalah racun yang melumpuhkan iman, merobek tatanan masyarakat, dan menjerumuskan pelakunya ke dalam jurang kehinaan.
Lihatlah sekeliling kita. Betapa banyak hubungan yang renggang, persahabatan yang hancur, keluarga yang tercerai berai, hanya karena sepenggal kata yang terucap tanpa hikmah. Betapa banyak hati yang terluka, air mata yang menetes, kesedihan yang mendalam, semua bermula dari lisan yang tidak mampu ia kuasai. Dosa-dosa jariyah pun banyak lahir dari lisan, tersebarluasnya kebohongan, fitnah, dan segala macam kemaksiatan yang diumbar di dunia maya maupun nyata. Betapa menakutkan, hati ini bergetar membayangkan kehancuran yang disebabkan oleh lidah yang tak mampu kita kendalikan.
Diceritakan bahwa ada seorang hamba Allah yang saleh lagi tawadhu'. Suatu ketika ia berdoa dengan penuh kerendahan hati, "Ya Rabb, sesungguhnya aku sangat takut akan dosa-dosaku dan sangat berharap ampunan-Mu." Lalu terdengarlah suara yang berkata padanya, "Sesungguhnya keinginanmu untuk bertaubat itu lebih besar daripada dosa-dosamu, dan harapanmu akan ampunan-Ku lebih kuat daripada ketakutanmu akan siksa-Ku. Dan sesungguhnya lisanmu yang senantiasa mengingat-Ku itu lebih kucintai daripada lidah orang yang gigih berpuasa namun lisannya tak terjaga." Betapa indahnya panggilan ini. Namun, apakah kita sudah layak menerimanya?
Marilah kita memohon kepada Allah, dengan suara lirih yang merayap dari lubuk hati yang paling dalam. Ya Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sesungguhnya lisan kami ini adalah amanah dari-Mu. Jadikanlah ia alat untuk menyebut asma-Mu, untuk menyampaikan kebenaran, untuk menyebarkan kebaikan. Jauhkanlah kami dari perkataan yang sia-sia, yang menyakitkan, yang menghinakan diri kami di hadapan-Mu. Ampunilah segala khilaf kami, luapan kata yang tak terukur, yang telah menyakiti sesama, yang telah melukai hati. Ya Allah, sungguh kami adalah hamba-hamba-Mu yang lemah.
Banyaknya perkataan yang tidak bermanfaat, itu adalah tanda kerasnya hati. Dan kerasnya hati itu, sesungguhnya jauh dari Allah. Sesungguhnya, betapa tersiksanya jiwa ketika lisan ini justru menjadi penghalang antara kita dan rahmat-Nya. Air mata ini tak mampu lagi membendung kesedihan, tatkala menyadari betapa egois dan lalainya kita terhadap pesan-pesan ilahi.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Renungkanlah, sekali lagi renungkanlah. Betapa celakanya kita jika lisan ini lebih sering digunakan untuk menyakiti, daripada menyayangi. Lebih sering untuk memecah belah, daripada menyatukan. Lebih sering untuk menipu, daripada berkata jujur. Ya Allah, sesungguhnya kami malu bersujud kepada-Mu dengan segala dosa yang telah kami perbuat melalui lisan ini.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
(Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.)
(QS. Al-Ahzab: 70-71)
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan kepada kita kemampuan untuk menjaga lisan ini, agar ia senantiasa berdzikir kepada-Nya, berucap kebaikan, dan menjadi saksi bisu kesungguhan iman kita di hadapan Allah.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.