memaknai puasa di bulan muharrom
Ceramah
I
Indah Rachmawati
4 Mei 2026
4 menit baca
3 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ....
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ} (البقرة: 183)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Yang terhormat, para alim ulama, para kiai, Bapak-bapak tokoh agama, seluruh jajaran pengurus majelis taklim, serta seluruh hadirin sekalian, Bapak, Ibu, saudara-saudari yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Senang sekali rasanya pada kesempatan yang berbahagia ini kita dapat berkumpul kembali dalam kajian rutin kita, tentu saja ini adalah sebuah nikmat dan karunia besar dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang patut kita syukuri. Kehadiran kita di sini adalah wujud kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, serta keinginan kita untuk senantiasa menimba ilmu dan memperdalam pemahaman agama kita.
Pada momen yang penuh berkah ini, telah hadir di hadapan kita bulan Muharram, bulan yang penuh kemuliaan, bulan yang menjadi penanda dimulainya tahun hijriyah kita. Tema yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini adalah "Memaknai Puasa di Bulan Muharram". Sebuah tema yang sangat relevan, mengingat salah satu amalan sunnah yang sangat ditekankan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah berpuasa di bulan Muharram, khususnya pada hari Asyura.
Bapak, Ibu, sekalian yang dirahmati Allah.
Bulan Muharram memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Ia adalah salah satu dari empat bulan haram yang kemuliaannya telah disebutkan dalam Al-Qur'an. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
{إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ} (التوبة: 36)
"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ada dua belas bulan, dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu..."
Dalam bulan Muharram ini, ada satu hari yang sangat istimewa, yaitu hari Asyura, tanggal 10 Muharram. Puasa pada hari ini memiliki keutamaan yang luar biasa bagi umat Islam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ: "يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ". (رواه مسلم)
Dari Abu Qatadah radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari Asyura, maka beliau bersabda: "Dapat menghapuskan dosa satu tahun yang lalu." (HR. Muslim)
Ini adalah keutamaan yang luar biasa, Bapak, Ibu. Dosa setahun bisa terhapus hanya dengan berpuasa di hari Asyura. Namun, penting untuk kita pahami, makna puasa di bulan Muharram, khususnya Asyura, lebih dari sekadar menggugurkan dosa. Ia adalah sarana untuk melatih diri kita, mendidik jiwa kita, dan mendekatkan diri kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Pertama, puasa Muharram melatih ketakwaan kita. Sebagaimana firman Allah dalam ayat pembuka tadi, hikmah utama dari puasa adalah agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa. Ketakwaan inilah yang harus kita raih dan jaga. Di bulan Muharram ini, saatnya kita merefleksikan kembali ketakwaan kita. Semakin dekat kita dengan Allah, semakin baik ibadah kita, semakin terjaga diri kita dari perbuatan maksiat.
Kedua, puasa Muharram mengajarkan kita tentang kesabaran dan pengendalian diri. Menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu lainnya selama berpuasa adalah latihan yang sangat efektif untuk mengendalikan diri dalam kehidupan sehari-hari. Kita dilatih untuk bersabar menghadapi berbagai ujian kehidupan, menahan amarah, dan mengendalikan hawa nafsu yang seringkali menjerumuskan kita pada kesalahan.
Ketiga, puasa Muharram mengingatkan kita akan perjuangan para nabi dan rasul Allah. Sejarah mencatat bahwa hari Asyura adalah hari penyelamatan Nabi Musa 'alaihissalam dan kaumnya dari kejaran Fir'aun. Dengan berpuasa di hari ini, kita mengenang dan meneladani keberanian serta keteguhan para utusan Allah dalam membela kebenaran.
Bapak, Ibu sekalian yang dirahmati Allah.
Agar puasa kita di bulan Muharram semakin bermakna, mari kita perhatikan beberapa hal:
1. Niatkan puasa semata-mata karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bukan karena ria atau sekadar ikut-ikutan.
2. Jaga seluruh anggota tubuh kita dari perbuatan dosa selama berpuasa. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan lisan dari perkataan dusta, menjaga pandangan dari hal yang haram, dan menjauhi segala bentuk maksiat.
3. Perbanyak amal kebaikan di bulan Muharram ini. Selain puasa, kita bisa bersedekah, menolong sesama, menyambung silaturahmi, dan berdzikir kepada Allah.
Memaknai puasa di bulan Muharram berarti menjadikan momen ini sebagai awal kebangkitan spiritual kita. Jadikan bulan ini sebagai sarana untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mari kita jadikan puasa kita bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi puasa yang mampu membersihkan hati, melatih jiwa, dan mendekatkan kita pada ridha-Nya.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa membimbing langkah kita menuju jalan yang lurus, memudahkan kita untuk beribadah, dan menerima segala amal kebaikan kita.
Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq.
Terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada tutur kata yang kurang berkenan atau ada kekurangan dalam penyampaian.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ