Logo SantriDigital

kewajiban membaca al-quran

Ceramah
I
Iriyani Fadirubun
6 Mei 2026 5 menit baca 3 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ. وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: (الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ) (البقرة: 121) رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. Yang terhormat, para alim ulama, para kiai, para asatidz, dan para asatidzah. Wabil khusus, kami hormati Bapak/Ibu (sebutkan tokoh penting jika ada, atau sejenak berikan penghormatan umum). Serta seluruh hadirin, ibu-ibu pengajian yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Puji syukur kehadirat Allah Azza Wa Jalla yang telah mempertemukan kita pada majelis yang penuh keberkahan ini. Sungguh sebuah kenikmatan yang luar biasa ketika kita dapat berkumpul, bersilaturahmi, dan menimba ilmu agama, apalagi di bulan yang mulia ini. Sehat selalu untuk kita semua, semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita. Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya akan mengajak kita semua untuk merenungi dan mengupas sebuah tema yang sangat fundamental dalam kehidupan seorang Muslim, yaitu "Kewajiban Membaca Al-Qur'an". Memanglah tema ini terdengar sederhana, namun terkadang dalam kesederhanaannya tersimpan kedalaman makna dan urgensi yang seringkali terabaikan dalam kesibukan kita sehari-hari. Ibu-ibu rahimakumullah, Al-Qur'an adalah kalamullah, firman Allah yang diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185: (شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ) Artinya: "Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan bathil)." Ayat ini menegaskan kedudukan Al-Qur'an sebagai sumber petunjuk utama. Namun, bagaimana kita bisa mendapatkan petunjuknya jika kita tidak membacanya? Kewajiban membaca Al-Qur'an bukan sekadar membaca huruf dan kalimatnya, tetapi ada tingkatan yang lebih dalam. Tingkatan pertama adalah membaca lafazhnya dengan tartil, yaitu membacanya dengan pelan, benar makhraj dan tajwidnya. Hal ini sebagaimana perintah Allah dalam Surah Al-Muzammil ayat 4: (وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا) Artinya: "Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil." Para ulama menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an dengan tartil adalah perintah untuk membaca dengan baik dan benar, bukan membaca terburu-buru. Di sinilah pentingnya kita belajar membaca Al-Qur'an, memperbaiki bacaan kita, bahkan jika perlu mengikuti kursus atau memanfaatkan guru ngaji yang kita miliki. Tingkatan kedua adalah memahami maknanya. Membaca tanpa memahami artinya ibarat lisan yang bergerak namun hati tidak terjamah. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 121 yang tadi saya bacakan di awal: (الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ) Artinya: "Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan hak membacanya; mereka itulah yang beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang tidak beriman kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang merugi." "Hak membacanya" di sini dimaknai oleh para ulama, salah satunya adalah memahami maknanya, mentadabburinya. Memahami perintah, larangan, janji, dan ancaman Allah yang terkandung di dalamnya. Bagaimana kita bisa mengamalkan isi Al-Qur'an jika kita tidak memahaminya? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi: (اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ) Artinya: "Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at bagi orang-orang yang membacanya." Hadits ini memberikan motivasi yang luar biasa. Betapa beruntungnya kita jika Al-Qur'an menjadi syafa'at kita di akhirat kelak. Namun, syafa'at itu hanya bagi ash-habih, yaitu orang-orang yang membacanya, memahaminya, dan mengamalkannya. Ibu-ibu yang dirahmati Allah, bagaimana kita mengamalkan Al-Qur'an sementara kita tidak meluangkan waktu untuk membacanya? Keseharian kita mungkin dipenuhi dengan urusan rumah tangga, anak-anak, pekerjaan, dan berbagai aktivitas lainnya. Namun, luangkanlah sedikit waktu, meskipun hanya beberapa ayat setiap hari. Jadikanlah membaca Al-Qur'an sebagai bagian dari rutinitas harian kita, sama pentingnya dengan makan, minum, atau beristirahat. Allah juga menjanjikan keutamaan bagi para pembaca Al-Qur'an. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: (مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ) Artinya: "Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." Bayangkan, hanya dengan membaca satu lembar Al-Qur'an, berapa banyak kebaikan yang kita kumpulkan? Ini adalah investasi terbaik yang bisa kita lakukan untuk dunia dan akhirat. Para ulama seperti Imam Nawawi dalam kitabnya "At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an" menjelaskan panjang lebar tentang adab dan keutamaan membaca Al-Qur'an. Beliau menekankan pentingnya keikhlasan, menjaga kesucian, dan merenungi makna bacaan. Lalu, bagaimana dengan tingkat ketiga? Tingkatan tertinggi adalah mengamalkan isi Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Menjadikannya sebagai panduan dalam setiap aspek kehidupan, mulai dari cara kita berbicara, berinteraksi, hingga mengambil keputusan. Sahabat Nabi, Aisyah radhiyallahu 'anha, ketika ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau menjawab: (كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ) Artinya: "Akhlaknya adalah Al-Qur'an." Ini adalah cerminan bagaimana Al-Qur'an telah meresap dalam setiap sendi kehidupan beliau. Maka, marilah kita jadikan Al-Qur'an bukan hanya pajangan di rumah atau bacaan sesekali, tetapi sebagai teman sejati kita, sumber inspirasi, dan pedoman hidup. Ibu-ibu sekalian, mari kita berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Al-Qur'an. Mulailah dengan hal yang kecil dan konsisten. Jika saat ini kita belum bisa membaca sama sekali, carilah guru ngaji. Jika bacaan kita masih terbata-bata, teruslah berlatih. Jika sudah bisa membaca, luangkan waktu untuk tadabbur, renungkan maknanya. Dan yang terpenting, berusahalah mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala memudahkan kita semua dalam membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur'an. Semoga Al-Qur'an menjadi cahaya bagi hati kita, penuntun langkah kita, dan pemberi syafa'at bagi kita di hari kiamat kelak. Terima kasih atas perhatiannya. Mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada tutur kata yang kurang berkenan atau ada kekurangan dalam penyampaian saya. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →