Logo SantriDigital

kewajiban membaca al-quran

Ceramah
I
Iriyani Fadirubun
6 Mei 2026 6 menit baca 3 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Alhamdulillahilladzi an’amana bini’matil iman wal islam. Wa asyhadualla ilaaha illallah wahdahu...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Alhamdulillahilladzi an’amana bini’matil iman wal islam. Wa asyhadualla ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh. Allahumma shalli wa sallim ‘ala nabiyyil mustofa Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’d. إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (QS. Fathir: 29) Rabbisyrahli shadri wayassirli amri wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqahu qaulii. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang terhormat para alim ulama, tokoh agama, guru-guru kita tercinta, para asatidz dan asatidzah. Serta seluruh hadirin sekalian, teristimewa kepada ananda remaja/pemuda yang berbahagia yang senantiasa dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Puji syukur ke hadirat Allah Azza Wa Jalla yang senantiasa melimpahkan rahmat, hidayah, serta karunia-Nya kepada kita, sehingga pada kesempatan yang berbahagia ini, kita dapat berkumpul dalam majelis ilmu yang penuh berkah ini. Terima kasih yang tak terhingga kami sampaikan atas kehadiran antum semua, semoga setiap langkah kita dihitung sebagai amal ibadah. Pada hari yang baik ini, kita akan bersama-sama mengkaji sebuah tema yang sangat fundamental, sebuah kewajiban yang seringkali terabaikan di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, yaitu kewajiban membaca Al-Qur'an. Semoga apa yang akan kita diskusikan nanti dapat membuka hati dan pikiran kita, serta menguatkan tekad kita untuk lebih mencintai dan mengamalkan Kitab Suci Al-Qur'an. Hadirin sekalian, para pemuda dan pemudi yang saya banggakan. Al-Qur'an bukanlah sekadar kitab suci yang dibaca dengan irama merdu di momen-momen tertentu. Al-Qur'an adalah pedoman hidup, panduan komprehensif dari Sang Pencipta, Allah Subhanahu Wa Ta'ala, untuk seluruh umat manusia, khususnya bagi kita sebagai seorang Muslim. Kewajiban kita terhadap Al-Qur'an tidak hanya sebatas membacanya, namun lebih dari itu. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 121: الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ "Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka, mereka membacanya sebagaimana mestinya. Mereka itulah yang beriman kepadanya. Dan siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang merugi." (QS. Al-Baqarah: 121) Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa orang yang beriman adalah mereka yang membaca kitab (Al-Qur'an) sebagaimana mestinya. Ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur'an adalah indikator keimanan seseorang. Membaca di sini bukan hanya gerakan bibir, tetapi meliputi bacaan yang benar (tartil), pemahaman makna, dan pengamalan isi kandungannya. Para pemuda, seringkali kita merasa kewalahan dengan tugas sekolah, kesibukan bermain game, atau bahkan dengan tekanan sosial. Namun, pernahkah kita berpikir, berapa banyak waktu yang kita luangkan untuk berinteraksi dengan Al-Qur'an? Padahal, Al-Qur'an menawarkan solusi bagi setiap permasalahan, menenangkan hati yang gundah, dan memberikan petunjuk di setiap persimpangan jalan kehidupan kita. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa'at bagi orang yang membacanya." (HR. Muslim) Bayangkan, di hari kiamat yang penuh kesulitan, Al-Qur'an datang membawa syafa'at. Sebuah jaminan keselamatan dan pertolongan yang luar biasa! Hadits ini menunjukkan betapa besar pahala dan keutamaan dari amalan membaca Al-Qur'an. Lebih lanjut, Al-Qur'an diibaratkan sebagai "nur" atau cahaya bagi kita. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat An-Nahl ayat 69: يَخْرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ "Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu dengan air itu Kami tumbuhkan bermacam-macam pepohonan. Maka dari buahnya adalah kami menghasilkan berbagai macam makanan. Begitu pula Kami menghidupkan orang-orang mati. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkan." (QS. An-Nahl: 69) - Maaf, ayat yang tepat adalah Surat An-Nur ayat 35. Yang benar adalah dari Surat An-Nur ayat 35: اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ ۚ نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ ۗ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ "Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang di dalamnya terdapat pelita besar. Pelita itu berada di dalam kaca (lampu). Kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun yang tumbuh bukan di timur dan bukan pula di barat, yang minyaknya hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing siapa yang Dia kehendaki kepada cahaya-Nya. Dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. An-Nur: 35) Dalam ayat ini, Allah Subhanallahu Wa Ta'ala mengibaratkan diri-Nya sebagai cahaya bagi langit dan bumi. Dan janji-Nya adalah bagi orang yang berinteraksi dengan Al-Qur'an, maka ia akan mendapatkan cahaya tersebut. Cahaya yang menerangi hati, menerangi pandangan, dan menerangi langkah di dunia ini, serta menjadi penerang dalam kegelapan di akhirat kelak. Para remaja yang mulia, zaman sekarang adalah zaman informasi yang sangat deras. Kita dibanjiri oleh berbagai konten, baik yang bermanfaat maupun yang menyesatkan. Al-Qur'an adalah kompas penunjuk arah di tengah lautan informasi ini. Tanpa tuntunan Al-Qur'an, kita bisa tersesat. Membaca Al-Qur'an, memahami maknanya, dan merenungkan kandungannya akan membentengi kita dari pengaruh negatif dan mengarahkan kita pada kebaikan. Pernahkah antum merasa tidak yakin akan pilihan hidup, atau ragu dalam mengambil keputusan? Cobalah buka Al-Qur'an. Mintalah petunjuk kepada Allah melalui kalam-Nya. Sesungguhnya, dalam Al-Qur'an terdapat jawaban dan solusi atas berbagai persoalan kehidupan. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata, "Sesungguhnya keadaan manusia sebelum datangnya Al-Qur'an adalah seperti para pengembara di padang pasir yang tersesat, mereka tidak memiliki petunjuk dan arah. Maka Allah menurunkan Al-Qur'an kepada mereka, lalu Al-Qur'an menjadi petunjuk dan penerang jalan mereka." Mengapa kita seringkali merasa hati kita menjadi keras, mudah marah, atau merasa hampa? Salah satu penyebab utamanya adalah menjauhnya diri kita dari Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah obat penyejuk hati. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata, "Tiada obat yang lebih manjur bagi penyakit hati selain Al-Qur'an." Bagaimana cara kita membiasakan diri membaca Al-Qur'an di tengah kesibukan? Mulailah dari hal-hal kecil. Sisihkan waktu lima menit setelah shalat Subuh untuk membaca satu atau dua ayat. Jadikan membaca Al-Qur'an seperti kebiasaan makan atau minum, sesuatu yang kita butuhkan setiap hari. Manfaatkan aplikasi Al-Qur'an di ponsel antum, dengarkan murottal saat dalam perjalanan, atau coba tadaburi artinya melalui terjemahan yang tersedia. Jangan jadikan usia muda sebagai alasan untuk menunda. Justru, masa muda adalah masa yang paling berharga. Di masa inilah kita memiliki energi, semangat, dan waktu luang yang lebih banyak untuk membangun kebiasaan baik yang akan dibawa hingga usia senja. Para sahabat Nabi di usia muda telah menjadi pilar-pilar Islam yang kokoh. Mari kita renungkan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 185: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ "Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan petunjuk serta pembeda (antara yang benar dan yang batil)." (QS. Al-Baqarah: 185) Al-Qur'an diturunkan sebagai petunjuk dan pembeda. Ia adalah tuntunan abadi yang tidak lekang oleh waktu. Tugas kita adalah menerimanya, membacanya, memahaminya, dan mengamalkannya. Untuk itu, mari kita jadikan Al-Qur'an sebagai sahabat terbaik kita. Jadikan ia sebagai buku panduan dalam setiap langkah kehidupan kita. Mulailah dari sekarang, jangan tunda lagi. Ajak teman-teman kita untuk sama-sama membaca, tadarus, dan mengkaji Al-Qur'an. Bangunlah tradisi positif di lingkungan antum untuk senantiasa berinteraksi dengan Kalamullah. Hadirin sekalian, kewajiban membaca Al-Qur'an bukan sekadar ritual ibadah, melainkan sebuah investasi jangka panjang untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan membaca Al-Qur'an, hati akan menjadi tenang, pikiran akan tercerahkan, dan kehidupan akan dipenuhi berkah. Marilah kita berkomitmen pada diri sendiri untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas bacaan Al-Qur'an kita. Niscaya, kita akan menjadi pribadi yang lebih baik, mendapatkan petunjuk yang hakiki, dan meraih kebahagiaan yang hakiki pula. Demikianlah yang dapat saya sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini. Semoga kita semua senantiasa diberikan kekuatan untuk membaca, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur'an. Atas segala kekurangan dan kekhilafan, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Jazakumullahu khairan katsiran. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →