Logo SantriDigital

kesetaraan gender dalam perspektif Al-qur'an

Ceramah
I
Indah Rachmawati
6 Mei 2026 4 menit baca 3 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: {يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ} (الحجرات: 13). رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. Hadirin hadirat, kaum muslimin wal muslimat yang berbahagia, para alim ulama, para tokoh masyarakat, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari sekalian yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Sungguh sebuah kehormatan dan kebahagiaan bagi saya pribadi, di pagi yang cerah ini, bisa berdiri di hadapan Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Semoga kehadiran kita dicatat sebagai amal saleh oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Hari ini, di majelis yang mulia ini, kita akan bersama-sama mengkaji satu topik yang insya Allah sangat relevan dengan kehidupan kita sehari-hari, yaitu "Kesetaraan Gender dalam Perspektif Al-Qur'an". Bapak, Ibu, Saudara sekalian yang dirahmati Allah. Dalam banyak ajaran, seringkali muncul persepsi yang berbeda-beda mengenai peran dan kedudukan laki-laki dan perempuan. Namun, Islam, kitab suci Al-Qur'an dan tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, telah memberikan pandangan yang sangat adil dan bijaksana. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 13: {يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ} "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." Ayat ini dengan jelas menegaskan bahwa asal usul penciptaan manusia adalah sama, yaitu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Perbedaan jenis kelamin ini bukan untuk menciptakan superioritas satu pihak atas pihak lain, melainkan untuk saling melengkapi dan saling memperkenalkan. Kriteria kemuliaan di sisi Allah bukanlah pada jenis kelamin, melainkan pada ketakwaan. Dalam Al-Qur'an, kita juga menemukan banyak ayat yang menegaskan kesetaraan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan dalam hal ibadah dan tanggung jawab sosial. Misalnya, dalam hal ibadah, Allah berfirman: {وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ} (Al-Baqarah: 228) "Dan para perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka dengan cara yang ma'ruf. Akan tetapi, para pria mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." Ayat ini sering ditafsirkan dengan pendekatan yang bijaksana. Frasa "satu tingkatan kelebihan" perlu dipahami dalam konteks tanggung jawab dan amanah yang dibebankan oleh Allah, bukan sebagai superioritas mutlak. Dalam Islam, tanggung jawab nafkah dan kepemimpinan dalam rumah tangga adalah amanah bagi laki-laki, yang juga berarti beban tanggung jawab yang besar. Sementara bagi perempuan, ada peran dan kontribusi yang tak kalah penting, bahkan seringkali menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: "استوصوا بالنساء خيراً، فإنهن عندكم عوان." "Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita, karena sesungguhnya mereka adalah 'awan' di sisi kalian." Kata 'awan' di sini dapat diartikan sebagai tawanan, atau perempuan yang berada dalam perwalian dan perlindungan laki-laki. Ini menunjukkan bahwa Islam memerintahkan perlakuan yang baik, penuh kasih sayang, dan penuh tanggung jawab terhadap perempuan. Sejarah Islam sendiri mencatat banyak perempuan-perempuan luar biasa yang memiliki peran signifikan. Siti Khadijah radhiyallahu 'anhu, seorang pengusaha sukses dan pendukung utama dakwah Rasulullah. Siti Aisyah radhiyallahu 'anha, seorang ulama besar yang meriwayatkan ribuan hadits dan menjadi rujukan ilmu bagi para sahabat. Para sahabat perempuan juga aktif dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari ekonomi, dakwah, hingga medan perang memberikan dukungan. Oleh karena itu, Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kesetaraan gender dalam Islam bukanlah berarti menghilangkan perbedaan fungsi dan peran yang telah Allah tetapkan. Namun, esensinya adalah pengakuan atas kemuliaan yang sama di hadapan Allah, kesetaraan dalam hak dan kewajiban, kepedulian, rasa hormat, dan kesempatan yang sama untuk berbuat baik dan berkontribusi bagi kemaslahatan umat. Mari kita sebagai umat Islam senantiasa mengkaji dan mengamalkan ajaran Islam dengan pemahaman yang benar dan bijaksana, agar kita mampu mewujudkan masyarakat yang adil, harmonis, dan diridhai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Laki-laki dan perempuan adalah dua sayap yang diperlukan untuk terbang tinggi. Jika keduanya kuat dan harmonis, maka kehidupan akan lebih bermakna. Sekian yang dapat saya sampaikan. Semoga apa yang disampaikan ini bermanfaat bagi kita semua. Mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada khilaf dan kata yang kurang berkenan. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →