Kemuliaan ilmu
Ceramah
B
Bistami
5 Mei 2026
7 menit baca
3 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ ...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا. (Al-Fath: 1-3)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Hadirin sekalian, para santri yang saya cintai karena Allah, para calon pemimpin umat, para pembelajar yang senantiasa merindukan cahaya ilmu.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sungguh merupakan sebuah kehormatan dan kebahagiaan yang luar biasa bagi saya pribadi, dapat berdiri di hadapan panjenengan semua pada kesempatan yang berbahagia ini. Suatu kehormatan yang tiada tara, bertemu dengan para penuntut ilmu yang memiliki semangat membara untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Kesempatan ini saya gunakan untuk mengucapkan rasa syukur yang sedalam-dalamnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah mengumpulkan kita di tempat yang penuh berkah ini.
Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah,
Pada hari yang cerah ini, izinkan saya untuk mengajak kita sekalian, terutama antum para santri dan pelajar, untuk merenungi sebuah tema yang sangat fundamental, sebuah anugerah yang tak ternilai harganya dalam kehidupan seorang Muslim, yaitu tentang Kemuliaan Ilmu.
Mengapa kita perlu membahas kemuliaan ilmu? Karena di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, Allah dan Rasul-Nya telah menggarisbawahi betapa agungnya kedudukan ilmu dan betapa mulianya orang yang berilmu. Sejak awal diturunkannya wahyu, Allah telah memerintahkan untuk membaca, yang merupakan salah satu gerbang utama untuk meraih ilmu.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam surat Al-'Alaq ayat 1-5:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ * خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ * اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ * الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ * عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
Ayat pertama yang turun pun sudah menekankan perintah untuk membaca, yang merupakan perintah untuk mencari dan menuntut ilmu. Ini menunjukkan bahwa ilmu adalah pondasi utama dalam ajaran Islam. Islam adalah agama yang sangat meninggikan kedudukan ilmu.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ.
Artinya: "Siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga."
Bayangkan, hanya dengan niat dan langkah untuk mencari ilmu, Allah menjanjikan kemudahan untuk meraih surga. Ini adalah sebuah janji yang sangat besar, yang hanya bisa didapatkan oleh mereka yang memiliki ilmu. Ilmu di sini bukan sekadar hafalan, tetapi ilmu yang diamalkan, ilmu yang mendekatkan diri kepada Allah.
Para ulama telah sepakat bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu agama, ilmu tentang Allah, ilmu tentang Rasul-Nya, dan ilmu tentang ajaran Islam. Mengapa? Karena ilmu agama adalah bekal kita untuk mengarungi kehidupan di dunia dan bekal kita menuju alam akhirat. Tanpa ilmu agama, bagaimana kita bisa beribadah dengan benar? Bagaimana kita bisa membedakan mana yang hak dan mana yang batil?
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman dalam surat Az-Zumar ayat 9:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya: "Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran."
Ayat ini dengan tegas membedakan antara orang yang berilmu dan yang tidak berilmu. Keduanya tidak sama. Orang yang berilmu adalah orang yang memiliki pemahaman yang benar, mampu membedakan kebaikan dan keburukan, serta mampu memberi manfaat bagi orang lain. Kemuliaan ini hanya dianugerahkan kepada orang-orang yang berakal, yaitu mereka yang mau menggunakan akalnya untuk mencari ilmu dan memahaminya.
Hadirin sekalian,
Sebagai santri dan pelajar, antum berada di garda terdepan dalam menuntut ilmu. Ini adalah masa keemasan untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. Jangan pernah merasa puas dengan apa yang telah antum dapatkan. Teruslah belajar, teruslah bertanya, teruslah menggali.
Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri adalah teladan terbaik bagi kita dalam menuntut ilmu. Beliau, meskipun seorang Nabi, senantiasa memohon tambahan ilmu kepada Allah. Sebagaimana dalam firman-Nya di surat Thaha ayat 114:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Artinya: "Dan katakanlah: 'Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan'."
Ini mengajarkan kepada kita bahwa penuntut ilmu sejati, ia tidak akan pernah merasa cukup dengan ilmunya. Ia akan selalu merasa butuh tambahan ilmu, karena ilmu Allah itu sangat luas, dan pengetahuan manusia sangat terbatas.
Penting bagi kita untuk memahami bahwa kemuliaan ilmu bukan sekadar kebanggaan akademis, tetapi sebuah tanggung jawab moral dan spiritual. Ilmu yang kita dapatkan harus dibarengi dengan adab dan akhlak yang mulia. Ilmu tanpa adab ibarat hujan yang jatuh di tanah tandus, tidak akan menumbuhkan apa-apa.
Imam Malik rahimahullah pernah berkata, "Belajarlah adab sebelum belajar ilmu." Maksudnya, adab dalam menuntut ilmu, adab kepada guru, adab kepada kitab, dan adab kepada sesama penuntut ilmu adalah pondasi yang sangat penting.
Seringkali kita melihat, ada orang yang memiliki banyak ilmu, namun lisannya kasar, perilakunya sombong, atau hatinya kotor. Ini bukanlah ciri orang yang berilmu mulia. Kemuliaan ilmu itu tercermin dari pribadi pelakunya. Ilmu yang mulia akan membuat pemiliknya semakin rendah hati, semakin khusyuk beribadah, semakin santun dalam bertutur kata, dan semakin peduli kepada sesama.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam surat Al-Mujadalah ayat 11:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya: "Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Ayat ini memberikan kabar gembira bahwa orang yang beriman dan berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah. Perhatikan, Allah menyebutkan orang beriman terlebih dahulu, baru kemudian orang berilmu. Ini menegaskan bahwa fondasi keimanan adalah syarat utama agar ilmu yang kita miliki mendatangkan kemuliaan hakiki. Tanpa keimanan, ilmu bisa menjadi bumerang yang menghancurkan.
Sejarah telah mencatat banyak kisah tentang para ulama yang menjadi mercusuar peradaban. Mulai dari Imam Syafi'i yang hafal Al-Qur'an di usia 7 tahun dan menguasai berbagai cabang ilmu di usia muda, hingga Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan para ilmuwan Muslim lainnya yang karya-karyanya menjadi rujukan dunia. Mereka tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga ilmu-ilmu dunia yang aplikatif, dan semua itu berlandaskan keimanan yang kuat kepada Allah.
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,
Sebagai santri dan pelajar, apa yang bisa kita lakukan agar ilmu yang kita cari benar-benar mendatangkan kemuliaan bagi diri kita dan orang lain?
Pertama, niatkan menuntut ilmu semata-mata karena Allah. Jadikan ilmu sebagai sarana untuk lebih mengenal Allah, lebih mencintai-Nya, dan lebih taat kepada-Nya. Hilangkan niat-niat duniawi yang sempit, seperti ingin dipuji, ingin kaya raya, atau ingin kedudukan semata.
Kedua, jaga adab dan akhlak. Hormati guru-guru kita, sahabat-sahabat kita, dan kitab-kitab kita. Jadikan ilmu sebagai alat untuk menghaluskan budi pekerti, bukan untuk menyombongkan diri.
Ketiga, amalkan ilmu yang telah didapat. Ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah. Mulailah dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar, hingga masyarakat luas. Sebarkan kebaikan dan pencerahkan melalui ilmu yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Jadilah agen perubahan yang membawa rahmat bagi alam semesta dengan ilmu kita.
Keempat, terus berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah. Kita adalah makhluk yang lemah. Segala kesuksesan yang kita raih adalah atas pertolongan-Nya.
Kemuliaan ilmu itu sungguh luar biasa. Ia adalah cahaya yang menerangi kegelapan hati, bekah yang menuntun langkah, dan kekuatan yang menggerakkan peradaban. Antum, para santri dan pelajar, adalah pewaris khazanah ilmu ini. Pegang teguh amanah ini. Jadikan ilmu sebagai jalan menuju surga, sebagai bekal terbaik di dunia dan akhirat.
Mari kita renungkan kembali, seberapa besar kita mencintai ilmu? Seberapa gigih kita dalam mencarinya? Dan seberapa tulus kita dalam mengamalkannya?
Penutup
Hadirin sekalian,
Demikianlah sedikit uraian mengenai kemuliaan ilmu. Semoga apa yang telah kita dengar bersama dapat menjadi pengingat dan motivasi bagi kita semua, khususnya antum para santri dan pelajar, untuk senantiasa mencintai ilmu, menuntutnya dengan sungguh-sungguh, dan mengamalkannya dengan ikhlas. Ingatlah, setiap langkah antum dalam majelis ilmu adalah investasi akhirat yang sangat berharga.
Mari kita jadikan diri kita sebagai generasi yang memiliki ilmu yang luas, yang dibarengi dengan iman yang kokoh dan akhlak yang mulia, agar kita dapat memberikan kontribusi positif bagi agama, nusa, dan bangsa.
Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kesalahan dalam ucapan maupun perbuatan.
Ya Allah, tambahkanlah bagi kami ilmu yang bermanfaat, iman yang kokoh, dan amal yang saleh.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mencintai ilmu dan senantiasa menuntutnya.
Ya Allah, berikanlah kami kemudahan dalam menuntut ilmu, dan jadikanlah ilmu kami sebagai cahaya yang menerangi jalan kami di dunia dan akhirat.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami akhlak yang mulia, dan gunakanlah kami untuk berbuat kebaikan di jalan-Mu.
Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina 'adzabannar.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.