Ikhlas
Khutbah Jumat
U
Ufi
6 Mei 2026
4 menit baca
3 views
أَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَ...
أَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، خَيْرُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاكْتَفَى بِهَدْيِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Marilah sejenak kita tadahahkan hati kita, bukan hanya telinga, tapi seluruh relung jiwa kita, untuk merenungi sebuah permata spiritual yang sangat berharga, sebuah kunci keberhasilan sejati di dunia dan akhirat: IKHLAS. Kata yang begitu singkat, namun maknanya sedalam samudra, seluas cakrawala, dan setinggi arasy. Ikhlas adalah menenggelamkan diri dalam lautan kerelaan, hanya mengharap ridha Allah semata, tanpa pamrih pujian manusia, tanpa terbersit sedikit pun keinginan untuk dilihat atau dipuji oleh makhluk-Nya. Ia adalah rahasia amalan yang diterima, perisai dari kesombongan, dan pelipur lara di saat nestapa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ.
"Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan pengabdian kepada-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan (juga) agar mereka melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." (QS. Al-Bayyinah: 5)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Bayangkanlah, wahai Saudara-saudaraku, betapa banyak amalan kita yang telah kita curahkan tenaga, waktu, dan harta, namun ia hanya terbang bagai debu di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena ia tidak dibasahi oleh jernihnya air ikhlas. Betapa sering lisannya terucap kalimat tasbih, tahmid, takbir, namun hatinya bergejolak oleh keinginan agar orang lain mendengar dan memujinya sebagai hamba yang saleh. Betapa sering tangannya terulur memberi sedekah, namun matanya mengawasi, berharap pujian sebagai insan dermawan. Inilah bahaya yang mengintai, jebakan syaitan yang begitu licik, merusak pahala amalan tanpa kita sadari. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits qudsi:
"Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh kepada syirik. Barangsiapa yang beramal satu amalan karena selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan amalan syiriknya." (HR. Muslim)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Ikhlas adalah engkau beramal bukan karena pandangan mata manusia, bukan karena pujian mereka, bukan pula karena takut cercaan mereka. Ikhlas adalah saat engkau menolong sesama dalam sunyi, tanpa ada yang tahu kecuali engkau dan Rabbmu. Ikhlas adalah saat engkau bersabar dalam musibah, menahan air mata dan keluh kesah, hanya berharap balasan dari Ar-Rahman. Sungguh, betapa indahnya tatkala kita bisa menyejajarkan hati lillahi ta'ala dalam setiap hembusan napas kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Az-Zumar ayat 3:
أَلَا ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
"Ingatlah, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu. Sesungguhnya, Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat mengingkari (nikmat-Nya)." (QS. Az-Zumar: 3)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, "Manusia seperti apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "Setiap orang yang banyak beramal, tulus, dan tanpa pamrih (mukhlish)." Para sahabat bertanya lagi, "Bagaimana dengan orang yang tulus?" Beliau bersabda, "Ia adalah orang yang beramal dalam keadaan sembunyi-sembunyi, dan kecintaannya kepada Allah tidak bertambah karena banyak pujian manusia, dan tidak berkurang karena banyak celaan mereka." (HR. Tirmidzi)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Mari kita renungkan. Kematian pasti akan datang menjemput. Pertanyaan malaikat di alam kubur akan menanti. Pengadilan di hari kiamat pasti akan terlaksana. Di saat itulah, tak seorang pun mampu membantumu kecuali amalan yang ikhlas karena Allah. Pujian manusia akan sirna, harta benda takkan berguna, kedudukan sosial akan terlupakan. Yang tersisa hanyalah catatan amal kita, yang akan dibentangkan di hadapan Al-Malik. Betapa meruginya diri ini, jika seumur hidup beramal, namun ia tidak diajukan kepada pemiliknya, yaitu Allah Azza wa Jalla. Terkadang, kita beribadah karena malu kepada manusia yang melihat kita, dan beribadah karena ingin dipuji manusia. Sungguh, betapa jauhnya kita dari makna ikhlas yang hakiki.
Ya Allah, ampuni kami. Ya Allah, bersihkan hati kami. Ya Allah, jadikanlah setiap detik kehidupan kami, setiap tarikan napas kami, setiap gerakan raga kami, adalah karena Engkau semata. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang ikhlas dalam segala perkataan dan perbuatan.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudaraku sekalian. Renungkanlah. Telaga Al-Kautsar menanti. Jannah Firdaus merindukan penghuninya. Syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang di dalamnya segala kenikmatan abadi. Ia adalah balasan bagi mereka yang ikhlas, yang sabar, yang tawakal. Jangan sampai kita terhalang dari kenikmatan itu, hanya karena sedikit riya' yang menyusup dalam amalan kita.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.