Idul adha
Ceramah
A
Arif
6 Mei 2026
4 menit baca
3 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin, nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh. Wa na’udzu billahi mi...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin, nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh. Wa na’udzu billahi min shururi anfusina wa min sayyiati a’malina. Man yahdihillahu fala mudilla lah, wa man yudlil fala hadiya lah. Wa asyhadu anla ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu. Allahumma shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Ya ayyuhalladzina amanu-ttaqullaha haqqat taqatihi wa la tamutunna illa wa antum muslimun. (QS. Ali Imran: 102)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
Yang terhormat para alim ulama, para kiai, asatidz, asatidzah, tokoh masyarakat, serta seluruh hadirin wal hadirat jamaah sekalian yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah mempertemukan kita pada hari yang penuh berkah ini, dalam rangka merayakan Idul Adha, hari raya kurban. Suatu kehormatan bagi kami untuk bisa berdiri di hadapan Bapak, Ibu, saudaraku sekalian, untuk berbagi sedikit ilmu dan renungan tentang momentum yang sangat istimewa ini. Semoga kehadiran kita semua dicatat sebagai amal ibadah di sisi-Nya.
Idul Adha, sering kita kenal sebagai hari raya kurban. Namun, di balik ritual penyembelihan hewan kurban, tersimpan makna yang luar biasa dalam, yang terkadang luput dari perhatian kita. Pada dasarnya Idul Adha mengingatkan kita pada kisah pengorbanan agung Nabi Ibrahim Alaihissalam dan putranya tercinta, Ismail Alaihissalam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surat As-Saffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Maka tatkala anak itu sampai (pada usia) sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ismail menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Kisah ini begitu sarat dengan pelajaran tentang keikhlasan, ketaatan mutlak kepada perintah Allah, dan ketabahan dalam menghadapi ujian. Nabi Ibrahim siap mengorbankan buah hatinya demi menaati wahyu Allah. Dan Ismail pun menunjukkan ketaatan luar biasa, rela menyerahkan dirinya sebagai wujud kepatuhan. Ini adalah puncak pengorbanan yang harus menjadi inspirasi bagi kita.
Namun, seringkali kita hanya melihat Idul Adha dari sisi penyembelihan hewan kurban. Padahal, makna kurban yang sesungguhnya adalah mendekatkan diri kepada Allah, sebagaimana arti kata "qurban" itu sendiri. Berkurban bukan hanya soal menyembelih hewan, tetapi juga tentang mengorbankan sesuatu yang kita cintai, sesuatu yang berharga bagi kita, demi mengharapkan ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bisa jadi itu adalah harta kita, waktu kita, tenaga kita, bahkan keegoisan kita.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi:
"Tidak ada amalan anak Adam yang lebih dicintai Allah pada hari raya kurban selain mengalirkan darah (menyembelih hewan kurban). Sesungguhnya pada hari kiamat, hewan-hewan kurban itu akan datang dengan tanduk, kuku, dan bulunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban telah sampai di sisi Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban." (HR. Tirmidzi)
Hadits ini menjelaskan betapa besar pahala dan keutamaan berkurban. Darah hewan kurban itu akan menjadi saksi di hadapan Allah. Lebih dari itu, disebutkan bahwa berkurban dapat membersihkan jiwa kita. Membersihkan jiwa dari sifat bakhil, serakah, egois, dan segala penyakit hati lainnya. Dengan berkurban, kita belajar untuk berbagi, peduli terhadap sesama, dan mengutamakan perintah Allah di atas segala kepentingan pribadi.
Bagi masyarakat desa, kurban seringkali menjadi momentum kebersamaan yang luar biasa. Hewan kurban yang disembelih tidak hanya dinikmati oleh yang berkurban, tetapi sebagian besar disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Inilah esensi Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, agama yang mengajarkan kasih sayang dan kepedulian. Mari kita hayati semangat Idul Adha ini. Tingkatkan kualitas takwa kita, pererat tali silaturrahim, dan jangan lupakan mereka yang kurang beruntung di sekitar kita. Mari kita jadikan Idul Adha ini sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan hati, dan menebar kebaikan.
Dengan memahami makna Idul Adha yang mendalam ini, marilah kita senantiasa mengintrospeksi diri. Sudahkah kita mengorbankan sesuatu yang kita cintai demi Allah? Sudahkah kita berbagi kebahagiaan Idul Adha ini dengan sesama? Jadikan momentum Idul Adha ini sebagai titik tolak untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bertakwa, dan lebih peduli terhadap sesama.
Demikianlah uraian singkat yang dapat kami sampaikan pada kesempatan yang berbahagia ini. Semoga apa yang telah kita dengar bersama dapat memberikan manfaat dan menjadi bekal dalam kehidupan kita. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada tutur kata yang kurang berkenan di hati hadirin sekalian, karena kesempurnaan hanya milik Allah dan kekurangan datangnya dari kami.
Astagfirullahaladzim wa atubu ilaik.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ