Logo SantriDigital

Idul adha

Khutbah Jumat
F
Fikih
9 Mei 2026 3 menit baca 3 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرَ. أَ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّوْرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الَّذِيْ بَعَثَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Di hari yang mulia ini, ketika jutaan kaum muslimin di seluruh penjuru bumi menunaikan ibadah kurban, hati kita seharusnya dipenuhi keharuan. Bukan hanya kegembiraan menyambut hari raya, tetapi juga kesedihan yang menyayat kalbu tatkala merenungkan makna di balik pengorbanan agung itu. Idul Adha, sebuah penanda waktu yang seharusnya membangkitkan kesadaran diri, mengingatkan kita pada ujian terberat seorang hamba kepada Rabb-nya. Kita peringati kisahnya Nabi Ibrahim Alaihissalam, sang Khalilullah, yang diperintahkan untuk menyembelih buah hatinya, Ismail Alaihissalam. Bayangkan, duhai saudara-saudaraku, betapa pilu hatinya yang teriris. Seorang ayah, mencintai anaknya lebih dari apapun, harus menelan kenyataan pahit. Perintah itu datang dari Ar-Rahman, Ar-Rahim. Mampukah kita merasa sedikit saja dari getirnya pengorbanan cinta yang hakiki itu? Tetes air mata mana yang sanggup menampung luka menyaksikan ayah menyalibkan pisau di leher sang permata hati? Sungguh, ini bukan sekadar kisah pengorbanan hewan semata. Ini adalah pelajaran tentang penyerahan diri yang total, tentang meletakkan segala yang kita cintai di bawah keridhaan Ilahi. Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'anul Karim: وَلَنْ نَبْلُوَكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ "Dan sungguh, akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, dan kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155) Kalian, kaum mukminin, renungkanlah. Adakah dalam hidup kita yang telah kita korbankan bukan karena terpaksa, bukan karena kehilangan, melainkan atas dasar panggilan cinta kita kepada Allah? Sudahkah kita mampu melepaskan ego, hawa nafsu, keduniawian, yang seringkali menjadi benteng penghalang antara kita dan Sang Pencipta? Seringkali kita terisak meratapi kehilangan dunia, namun adakah tangisan tulus kita saat terpisah dari cinta Ilahi? Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim Alaihissalam menangis, bukan karena takut kehilangan anaknya, tapi karena Beratnya beban perintah yang mustahil bagi logika. Namun, iman melampaui logika. Penyerahan dirinya adalah puncak kepasrahan. "Wahai Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) dari orang-orang yang saleh." Lalu tatkala dia mampu melakukannya, ia diperintah untuk mengorbankannya. Dan ia jawab, "Wahai Tuhanku, takdirkanlah apa yang Engkau kehendaki." Betapa pedihnya hati ketika kita melihat diri kita sendiri. Berapa banyak karunia Allah yang telah kita terima, namun berapa banyak pula yang telah kita sia-siakan? Berapa banyak panggilan azan yang kita abaikan, berapa banyak ayat suci yang kita biarkan tergeletak tak terbaca? Dosa-dosa kita menumpuk bagai gunung, namun amalan akhirat kita setipis helai rambut. Adakah rasa sedih itu menggelitik kalbu kita? Adakah tangis penyesalan itu membasahi pipi kita di keheningan malam? Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Idul Adha ini, marilah kita tadaburi kembali makna pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail Alaihissalam. Korbankanlah kecintaan kita pada dunia dan segala atributnya yang fana. Korbankanlah keakuan kita, kesombongan kita, dan rasa dengki yang bersemayam dalam dada. Korbankanlah waktu kita, harta kita, dan tenaga kita di jalan Allah. Alihkanlah tangisan kita dari ratapan duniawi, menjadi isakan rindu pada rahmat-Nya. Jagalah kehormatan diri dari segala maksiat, persembahkanlah jiwa raga ini sebagai bukti cinta kita yang terdalam. Tatkala kita melemparkan jumrah, kita sedang melempar setan yang menggoda hati kita. Tatkala kita menyembelih kurban, kita sedang menyembelih hawa nafsu yang menjauhkan kita dari Allah. Marilah kita jadikan momen Idul Adha ini sebagai awal pertobatan yang sesungguhnya, memohon ampunan atas kekhilafan kita. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →