hal yang paling penting di dalam berkurban
Khutbah Jumat
M
Mukty ali yahya
5 Mei 2026
4 menit baca
3 views
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُور...
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ.
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ.
وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ خَلْقِهِ أَجْمَعِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Hari ini, di hadapan kiblat hati kita, di bawah naungan rahmat Ilahi, kita berkumpul untuk menunaikan kewajiban mulia. Di saat-saat seperti ini, ketika kita bersiap untuk menyambut syariat kurban, marilah kita merenungi, apa sejatinya yang paling penting di dalam ibadah kurban ini? Apakah sekadar menumpahkan darah binatang, atau adakah makna yang lebih dalam, yang menuntut kita untuk menyalakan api kesadaran di lubuk jiwa yang paling terdalam?
Saudaraku seiman, ketahuilah, kurban bukanlah sekadar tradisi atau ritual. Kurban adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla. Ia adalah bukti penyerahan diri yang total, pengorbanan yang tulus, dan ketundukan yang mutlak kepada Sang Pencipta. Tatkala Ibrahim Alaihissalam diperintahkan untuk menyembelih putranya tercinta, Ismail Alaihissalam, yang ia lakukan adalah pendengaran dan kepatuhan, bukan keraguan apalagi penolakan. Allah Ta'ala berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
*“Maka tatkala anak itu sampai (pada usia) ia sanggup berjalan bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?’ Ismail menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”* (QS. Ash-Shaffat: 102)
Lihatlah, Bapak! Puncak pengorbanan Ibrahim Alaihissalam adalah ketauhidan yang membara, keikhlasan yang tak tergoyahkan. Ia siap menyerahkan apa yang paling dicintainya demi perintah Allah. Dan yang paling penting dari kurban kita adalah ketakwaan yang murni, ketulusan hati yang mengharapkan ridha-Nya, bukan sekadar daging dan darah yang kita persembahkan. Allah Ta'ala berfirman dengan tegas:
لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
*"Daging dan darah hewan kurban dantsconfig tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah takwa kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya kepada kamu. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik."* (QS. Al-Hajj: 37)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Jadi, hal yang paling penting dalam berkurban adalah hati yang bertakwa. Hati yang menyadari bahwa setiap helaan napas, setiap detak jantung, adalah anugerah dari Allah. Hati yang siap mengorbankan apa saja yang ia cintai – harta, waktu, bahkan egonya – demi panggilan-Nya. Bukankah kita mengaku cinta kepada Allah? Bukankah kita merindukan surga-Nya yang abadi? Dan bukankah kita takut akan azab-Nya yang pedih?
Jika cinta itu ada, maka kurban adalah wujudnya. Jika rindu itu ada, maka kurban adalah jalannya. Jika takut itu mendalam, maka kurban adalah langkah untuk menjauh dari murka-Nya. Jangan biarkan kurban kita menjadi sekadar tontonan, sekadar ritual yang membusuk karena ketidakikhlasan. Jangan biarkan ia menjadi tumpukan daging yang dihisab oleh malaikat karena niat yang keliru.
Pernahkah terlintas di benak kita, adakah dosa-dosa yang menumpuk dalam diri kita, yang hanya bisa dihapus dengan pengorbanan yang disaksikan Allah semata? Pernahkah kita merenungi, betapa seringnya kita mengabaikan perintah-Nya, tenggelam dalam dunia yang fana, melupakan tujuan hakiki penciptaan kita? Kurban adalah kesempatan emas untuk membersihkan diri, untuk kembali kepada fitrah yang suci. Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ أَعْظَمَ أَيَّامِ الدُّنْيَا يَوْمُ النَّحْرِ، ثُمَّ الْيَوْمُ الَّذِي تَلُوهُ»
*"Sesungguhnya hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari An-Nahr (Idul Adha), kemudian hari setelahnya."* (HR. Tirmidzi)
Hari yang agung ini adalah momen untuk menyalakan kembali semangat pengorbanan dalam diri kita. Pengorbanan yang mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam yang rela mengorbankan putranya, dan Nabi Ismail Alaihissalam yang rela dikorbankan. Pengorbanan yang sejatinya adalah panggilan untuk mengorbankan sifat-sifat tercela dalam diri kita: keserakahan, kebakhilan, keangkuhan, dan segala penyakit hati lainnya.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Maka, mari kita bertanya pada diri sendiri, di saat kita berkurban, apakah hati kita yang ikut terpotong bersama hewan kurban itu? Apakah ego kita yang telah kita serahkan di hadapan Allah? Atau hanya sekadar uang dan waktu yang tersisihkan? Ya Allah, sungguh hati ini lemah, mudah goyah oleh godaan dunia yang semu. Betapa seringnya kita diperbudak oleh hawa nafsu, lupa akan tujuan akhir hayat.
Kalaulah kita benar-benar mencintai Allah, maka berikanlah yang terbaik untuk-Nya. Bukan sekadar hewan yang kita anggap remeh, apalagi yang cacat dan lemah. Tapi pilihlah yang terbaik, yang paling gemuk, yang paling sehat, sebagai bentuk penghormatan kita. Ketahuilah, Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ»
*"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian dan amal perbuatan kalian."* (HR. Muslim)
Jadi, ketika kita menyembelih hewan kurban, sesungguhnya kita sedang menyembelih kerakusan hati kita, sifat egois kita, dan segala bentuk kemaksiatan yang menjauhkan kita dari rahmat-Nya. Kita sedang menghidupkan kembali nyala api iman yang mungkin telah redup, menyalakan rasa syukur atas nikmat-Nya yang tak terhingga. Siapkan hati kita, bersihkan niat kita, agar kurban kita benar-benar menjadi kendaraan yang membawa kita semakin dekat kepada Allah. Mari kita tinggalkan semua kesibukan duniawi sesaat, dan hadirkan hati kita sepenuhnya dalam ibadah ini. Rasakan getaran keagungan-Nya, dengarkan panggilan cinta-Nya yang memanggil kita untuk kembali.
Ya Allah, jadikanlah kurban kami ini adalah kurban yang diterima. Jadikanlah takwa kami sebagai bekal terbaik kami. Jadikanlah hati kami senantiasa tertaut kepada-Mu. Terimalah taubat kami, ampunilah dosa-dosa kami. Aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.