Logo SantriDigital

Hakikat Kurban

Ceramah
T
Taharudin
6 Mei 2026 5 menit baca 3 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. ...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. فَإِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَقُولُ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: {فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ} (الكوثر: ٢) رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Tuan-tuan, puan-puan, Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari sekalian yang insyaAllah dimuliakan Allah SWT. Sungguh sebuah kehormatan besar bagi saya bisa berdiri di hadapan Bapak, Ibu, Saudara sekalian pada kesempatan yang berbahagia ini. Rasa syukur yang dalam saya panjatkan, di mana Allah masih mempertemukan kita dalam keadaan sehat walafiat, dalam lindungan-Nya. Semoga setiap langkah kita menuju majelis ilmu ini dicatat sebagai amal kebaikan. Hari ini, dengan kerendahan hati, saya ingin mengajak kita semua untuk merenungi kembali sebuah ibadah yang sangat istimewa, sebuah ibadah yang sarat makna, yaitu ibadah kurban. Kita sudah sering mendengar dan mungkin juga telah melaksanakan ibadah ini setiap tahunnya. Namun, sudahkah kita benar-benar memahami hakikat kurban itu sendiri? Ibadah yang kalau dihayati sungguh menyayat hati, namun juga membangkitkan semangat keimanan. Bapak, Ibu sekalian, ketika kita mendengar kata "kurban", apa yang terlintas dalam benak kita? Mungkin hanya sekadar menyembelih hewan, dagingnya dibagikan kepada masyarakat. Ya, benar. Namun, mari kita selami lebih dalam. Kurban berasal dari kata kerja 'qaraba' yang artinya mendekatkan. Jadi, hakikat kurban adalah upaya kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Hajj ayat 36 yang artinya: "Dan unta-unta unta itu Kami jadikan syiar bagi kamu, maka pada yang demikian itu terdapat kebaikan bagimu, maka sebutlah nama Allah ketika kamu berbaris (untuk menyembelihnya). Maka apabila telah roboh (matinya) binatang-binatang itu, maka makanlah sebagiannya dan berilah makanlah orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (orang yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu untuk kamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Hajj: 36) Ayat ini mengingatkan kita bahwa kurban adalah syiar Allah, tanda keagungan-Nya. Dan ketika kita menyembelihnya, kita menyebut nama Allah. Ada kesengajaan untuk menjadikan penyembelihan itu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Namun, ada sebuah kisah yang seringkali membuat hati kita terenyuh. Kisah seorang bapak yang sangat mencintai putranya. Ia adalah Nabi Ibrahim Alaihissalam. Ketika beliau diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail Alaihissalam, hatinya sungguh teriris. Bayangkan, seorang ayah harus menyembelih darah dagingnya sendiri. Ini adalah ujian cinta terberat. Namun, karena cintanya kepada Allah lebih besar dari cintanya kepada apapun, termasuk putranya sendiri, beliau pun siap melaksanakan perintah itu. Nabi Ibrahim berkata kepada Ismail dalam Al-Qur'an Surat As-Saffat ayat 102: {فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ} "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama bapaknya, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?’ Ismail menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’." (QS. As-Saffat: 102) Lihatlah betapa besarnya pengorbanan Ibrahim dan kepatuhan Ismail. Ketaatan mereka yang luar biasa inilah yang akhirnya membuat Allah SWT mengganti Ismail dengan seekor kibasyang besar di saat-saat terakhir. Dari sinilah kita belajar, bahwa ibadah kurban bukan hanya sekadar ritual, tapi adalah simbol ketundukan total, pengorbanan harta benda bahkan nyawa demi cinta dan ketaatan kepada Allah. Saudara-saudari sekalian, kurban mengajarkan kita untuk mengendalikan hawa nafsu, mengalahkan ego, dan mendahulukan perintah Allah di atas segalanya. Ketika kita berkorban, kita sedang mencontoh pengorbanan Nabi Ibrahim. Kita sedang membuktikan cinta kita kepada Allah dengan mengorbankan sesuatu yang kita cintai, sesuatu yang berharga bagi kita. Ada kalanya, hati kita berat untuk berkorban. Mungkin kita berpikir, "Sayang, ini hasil kerja keras saya. Sayang ini hanya satu-satunya ternak yang saya punya." Perasaan itu wajar kita rasakan sebagai manusia. Namun, ingatlah firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 267: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ} "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memejamkan mata enggan menerimanya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS. Al-Baqarah: 267) Mari kita berikan yang terbaik, yang halal, yang thayyib. Jangan sampai kita menahan yang buruk untuk kita berikan dalam ibadah kurban. Allah tidak butuh daging dan darah hewan kurban kita. Allah hanya butuh ketakwaan kita. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an Surat Al-Hajj ayat 37: {لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ} "Daging (kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah takwa kamu. Demikianlah Allah telah menundukkannya untukmu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap petunjuk-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Hajj: 37) Jadi, hakikat kurban adalah ketakwaan. Semakin tulus niat kita, semakin dalam rasa syukur kita, semakin besar pengorbanan kita, maka semakin dekatlah kita dengan Allah SWT. Kurban mengajarkan kita untuk berbagi. Mari, kita lihat di sekitar kita, masih banyak saudara-saudari kita yang membutuhkan uluran tangan. Kurban yang kita tunaikan bukan hanya sekadar menyembelih hewan, tetapi juga menyambung tali kasih, meringankan beban sesama, merajut ukhuwah Islamiyah. Bayangkan, senyum bahagia mereka ketika menerima daging kurban. Kebahagiaan itu adalah limpahan rahmat dari Allah yang akan kembali kepada diri kita. Bapak, Ibu sekalian. Ibadah kurban adalah investasi akhirat yang sangat berharga. Dengan berkorban, kita sedang membersihkan diri dari sifat kikir, egois, dan cinta dunia yang berlebihan. Kita sedang melatih hati untuk lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. Mari kita hadirkan rasa haru, rasa syukur, dan rasa cinta yang mendalam saat kita menjalankan ibadah kurban. Jadikan setiap tetesan darah hewan kurban sebagai bukti ketundukan kita, dan setiap helaan nafas kita sebagai wujud syukur kita kepada Allah. Marilah kita renungkan kembali. Teladan Ibrahim AS, ketundukan Ismail AS, dan perintah Allah SWT untuk berbagi dengan sesama. Semoga ibadah kurban kita tahun ini, dan tahun-tahun mendatang, diterima oleh Allah SWT sebagai amal saleh yang menyelamatkan kita dunia dan akhirat. Aamiin. Allahumma ya Tuhan kami, ampunilah segala dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa saudara-saudari kami, dan dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat. Jadikanlah ibadah kurban kami ini sebagai penolong kami kelak di hari kiamat. Himpunkanlah kami bersama para nabi dan rasul di surgamu yang penuh kenikmatan. Terima kasih atas perhatian Bapak, Ibu sekalian. Jika ada khilaf dan salah kata, itu semata-mata kelemahan saya, dan jika ada kebenaran, itu semata-mata datang dari Allah SWT. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →