cerita tentang tentara thalut melawan jalut sebagai manifestasi atas keimanan
Khutbah Jumat
M
Ma'zumi
7 Mei 2026
5 menit baca
4 views
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، ...
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Pada hari yang mulia ini, khatib menyeru diri pribadi dan seluruh hadirin untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ketakwaan, hadirin sekalian, adalah bekal perjumpaan kita dengan Sang Pencipta. Ia adalah kompas yang mengarahkan langkah kita di dunia agar tidak tersesat menuju jurang kehancuran, kelak di akhirat.
Renungkanlah sejenak, wahai hamba Allah, betapa sering kita terlena oleh gemerlap dunia yang fana. Lupa akan hakikat penciptaan, lupa akan tujuan hidup yang sesungguhnya. Kita terbawa arus kehidupan yang penuh godaan, terbuai oleh kenikmatan sesaat, hingga hati kita kering kerontang dari rasa takut kepada-Nya, dan rindu akan surga-Nya menjadi pudar. Namun, Allah Yang Maha Pengasih itu tidak pernah menutup pintu taubat-Nya.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kisah perjuangan tentara Thalut melawan Jalut yang tercatat dalam Al-Qur'an adalah pelajaran berharga tentang kekuatan iman. Ketika tentara yang dipimpin Thalut diperintahkan menyeberangi sungai sebelum bertemu musuh yang jauh lebih besar, banyak di antara mereka yang ragu dan berputus asa. Namun, segelintir orang yang benar-benar beriman tetap teguh pada pendirian. Allah berfirman:
فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Maka tatkala Thalut beserta orang-orang yang beriman bersama sama dia sudah menyeberangi sungai ( itu ), berkatalah orang-orang yang telah minum airnya , “Kita tidak punya kekuatan lagi hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya, ” orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan bertemu dengan Allah berkata, “Berapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249)
Lihatlah, hadirin. Perbedaan mendasar antara tentara yang beriman dan yang tidak terletak pada keyakinan mereka kepada Allah. Sebagian hanya melihat kekuatan fisik dan jumlah pasukan musuh, namun sebagian yang lain melihat kebesaran Tuhannya. Bagi mereka, kemenangan bukan semata-mata hasil dari strategi perang, melainkan dari izin dan pertolongan Allah. Keteguhan hati dalam menghadapi cobaan, bukan karena tidak ada rasa takut, tetapi karena rasa takut itu dikalahkan oleh keyakinan yang lebih besar kepada Sang Maha Kuasa.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Keimanan yang hakiki tidak hanya diucapkan lisan, tetapi terpatri dalam hati dan terwujud dalam tindakan nyata. Saat ujian datang menerpa, saat musibah mengintai, saat godaan dunia menggoda, di situlah iman kita diuji. Apakah kita akan kukuh berdiri teguh di atas kebenaran, ataukah kita akan goyah terhempas badai keraguan dan keputusasaan?
Ingatlah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Demi Allah, sungguh kelemahan adalah rasa ingin tahu dan berputus asa." (HR. Ahmad)
Rasa ingin tahu yang berlebihan bisa menjerumuskan kita pada hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan dilarang. Sedang keputusasaan, itu adalah penolakan terhadap rahmat Allah, sebuah penyakit hati yang mematikan harapan.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Jika kita lihat diri kita saat ini, di manakah posisi keimanan kita? Apakah hati kita masih bergetar saat mendengar ayat-ayat Allah dibacakan? Apakah jiwa kita merindu untuk bermunajat kepada-Nya di sepertiga malam terakhir? Apakah kita merasa malu saat berbuat maksiat, mengingat Allah selalu melihat setiap gerak gerik kita?
Ketika kita terjerumus dalam dosa, marilah kita berlari kepada-Nya. Jangan biarkan setan membisikkan kebohongan bahwa pintu taubat telah tertutup. Allah berfirman:
يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
"Wahai hamba-Ku yang melampaui batas (ke atas) diri mereka, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)
Betapa agungnya rahmat Allah! Sek besar apapun dosa yang telah kita perbuat, jika kita dengan tulus bertaubat, niscaya Allah akan mengampuninya. Kesempatan untuk kembali kepada-Nya selalu terbuka lebar, selama hayat masih dikandung badan.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mari kita jadikan kisah tentara Thalut ini sebagai pengingat. Mari kita perkuat iman kita, bukan hanya diucapkan, tetapi dijiwai dalam setiap langkah kehidupan kita. Jadikan Allah sebagai sandaran utama, sumber kekuatan kita, dan tujuan akhir dari setiap usaha kita. Jangan pernah merasa kecil dihadapan musuh duniawi, selama kita bersama Allah Al-Qadir, Al-Qawiyy.
Jauhkan diri dari segala bentuk kesyirikan dan kemaksiatan. Dekatkan diri kepada-Nya dengan amal shaleh, dengan membaca Al-Qur'an, dengan bersedekah, dengan menuntut ilmu, dan dengan menjaga silaturahmi. Semoga dengan demikian, hati kita menjadi tenang, jiwa kita terbebaskan dari kegelisahan, dan kita menjadi pribadi yang dicintai Allah.
Mari kita merenungi hakikat hidup ini. Dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Kematian pasti datang menjemput. Akankah kita siap menghadapinya dengan membawa bekal yang cukup, ataukah kita akan menyesal di kemudian hari, di saat penyesalan tiada lagi berguna?
Marilah kita berdoa, memohon ampunan kepada Allah, dan memohon kekuatan untuk senantiasa teguh di jalan-Nya. Ya Allah, kami adalah hamba-Mu yang lemah. Tiada daya dan upaya kecuali dari-Mu. Ampunilah segala dosa dan kekhilafan kami. Limpahkanlah kepada kami rahmat-Mu yang luas, dan masukkanlah kami ke dalam surga-Mu yang abadi.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
* * *
(Khutbah Kedua)
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
الْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah kedua ini, mari kembali kita teguhkan hati kita. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan kita akal untuk berpikir, hati untuk merasa, dan anggota tubuh untuk beramal. Betapa meruginya diri kita jika semua ini hanya digunakan untuk memenuhi hawa nafsu yang sementara, lalu ditinggalkan dalam keadaan rusak dan penuh dosa.
Ketahuilah, hadirin sekalian, bahwa keimanan yang lurus adalah manifestasi dari kesadaran diri akan kelemahan dan ketergantungan kita kepada Allah. Sebagaimana tentara Thalut sadar bahwa mereka tidak berarti tanpa pertolongan Allah, demikian pula kita harus menyadari bahwa kekuatan kita yang sejati adalah dari Dia. Allah berfirman:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamu sekalian lebih unggul, jika kamu termasuk orang-orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran: 139)
Oleh karena itu, perbarui niat kita, perkuat tekad kita untuk menjadi hamba Allah yang senantiasa taat dan patuh. Jangan biarkan dunia merenggut cinta kita kepada Sang Pencipta. Ingatlah kematian yang senantiasa mengintai, dan tanggung jawab kita kelak di Hari Perhitungan.
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang beriman dengan iman yang kokoh, iman yang teguh, yang tidak goyah oleh cobaan sekecil apapun. Ya Allah, bimbinglah langkah kami di dunia ini, tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus, dan hindarkanlah kami dari jalan-jalan yang sesat.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الدِّينَ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
بَارَكَ اللهُ لَنَا وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.