Bukan Sekadar Mencari Nafkah: Kewajiban Ayah Menanamkan Akhlak.
Khutbah Jumat
A
Arham Hasanuddin
6 Mei 2026
4 menit baca
3 views
صلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. يا من له في القلبِ كلُّ الوفا، صل...
صلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
يا من له في القلبِ كلُّ الوفا، صلوا عليه وسلموا تسليما.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Hadirin sekalian, mukminin yang dirahmati Allah. Mari sejenak kita renungkan diri kita, merenungi jejak langkah kita di dunia yang fana ini. Kita diberikan amanah oleh Allah – amanah berupa kehidupan, amanah berupa tanggung jawab, dan yang paling mulia, amanah berupa keturunan. Kita berjuang, kita bekerja keras, kita mengais rezeki dari fajar hingga senja, bukan semata-mata untuk mengisi perut yang lapar atau untuk menumpuk harta yang kelak akan sirna. Kita mencari nafkah, kita berpeluh keringat, karena kita tahu ada tulang punggung yang harus ditopang, ada masa depan yang harus dibangun. Namun, di tengah hiruk pikuk dunia yang memekakkan telinga, di tengah kesibukan yang menguras jiwa, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri: untuk tujuan apa semua ini sebenarnya?
Bukan hanya sekadar rumah yang kokoh berdiri, bukan hanya sekadar perut yang terisi, namun ada tanggung jawab yang lebih besar, amanah yang lebih berat, yang Allah titipkan kepada pundak para ayah, para pencari nafkah dalam keluarga. Tanggung jawab itu adalah menanamkan akhlak mulia, menaburkan benih kebaikan dalam hati anak-anak. Bukankah Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia, mengingatkan kita dengan lembut namun tegas:
"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ"
(QS. At-Tahrim: 6).
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6).
Ayah, pernahkah engkau membayangkan, ketika tangan yang dulu menggendongnya kini menjadi gemetar karena usia, lantas ia melantunkan ayat Allah dengan fasih, ia mengucapkan kalimat *subhanallah* dengan tulus, ia mengamalkan adab-adab Islam dalam kesehariannya? Itulah investasi akhiratmu, itulah bekalmu kelak. Namun, jika yang engkau berikan hanya materi semata, harta yang melimpah tapi iman yang sirna, akhlak yang luntur, bagaimana kelak ia akan berdiri di hadapan Rabb-nya? Sungguh, hati ini meratap, jiwa ini menangis, memikirkan generasi yang terbuai dalam gemerlap dunia, lupa akan pijar surga.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Betapa pedihnya hati ini membayangkan ada seorang ayah yang tenggelam dalam kesibukan dunia, lupa meluangkan waktu untuk membimbing anaknya membaca Al-Qur'an, lupa mengajarkan tata krama, lupa menanamkan rasa takut kepada Allah. Padahal, Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda, dengan suara yang begitu sendu, mengingatkan kita:
"مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ"
(Hadits riwayat Tirmidzi).
"Tidak ada pemberian seorang ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada adab (pendidikan akhlak) yang baik." (Hadits riwayat Tirmidzi).
Adab yang baik, akhlak yang mulia, itulah warisan yang tak ternilai, harta yang takkan pernah sirna. Ketika kita mengajarkan anak kita untuk jujur, kelak ia akan menjadi pembisnis yang amanah. Ketika kita mengajarkan anak kita untuk sabar, kelak ia akan menjadi pribadi yang tabah menghadapi ujian. Ketika kita mengajarkan anak kita untuk taat kepada Allah, kelak ia akan menjadi hamba yang senantiasa diridhai-Nya. Bukankah ini lebih berharga dari tumpukan emas dan permata?
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Janganlah kita tergiur oleh gemintang dunia yang sesaat, hingga lupa akan bintang-bintang petunjuk dari langit. Janganlah kita terlena oleh fatamorgana kesuksesan materi, hingga lalai dari panggilan iman yang sejati. Marilah, wahai para ayah, kita jadikan rumah kita sebagai taman surga di dunia. Kita jadikan setiap detik bersamanya sebagai kesempatan untuk menorehkan kebaikan, untuk menanamkan keimanan. Bukankah Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang? Dia menganugerahkan kita mata agar bisa melihat keindahan ciptaan-Nya, telinga agar bisa mendengar kalam-Nya, hati agar bisa merenungi kasih-Nya. Maka, bagaimana mungkin kita melupakan amanah terindah ini? Ya Allah, Ampuni kami, sesungguhnya hati kami lemah dan jiwa kami bergetar saat memikirkan kelalaian kami.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Perhatikanlah lukisan alam semesta yang terbentang luas, setiap ciptaan-Nya memiliki hikmah dan tujuan. Begitu pula anak-anak kita, mereka adalah amanah terindah, cerminan diri kita di masa depan. Sungguh, air mata ini tak terbendung saat membayangkan ada anak yang tersesat jalannya, terjerumus dalam lembah kehinaan, karena sang ayah lebih mengejar dunia daripada akhiratnya. Apakah engkau ridha kelak di akhirat, ia menarikmu ke dalam jurang neraka? Keinginan untuk menangis itu adalah tanda hidupnya hati, bukti bahwa jiwa ini masih memiliki harapan untuk kembali.
Allah Ta'ala mengingatkan kita dalam surah Al-Kahfi:
"وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا"
(QS. Al-Kahfi: 28).
"Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lupakan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas." (QS. Al-Kahfi: 28).
Ayah, janganlah menjadi orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah. Janganlah menjadi teladan yang buruk bagi buah hatimu. Harta bisa habis, kekuasaan bisa sirna, tapi budi pekerti yang mulia, iman yang tertanam kuat di hati, itulah yang akan menjadi penolongmu kelak di sisi Allah. Marilah kita renungi kembali, apakah panggilan adzan lebih kita hiraukan daripada panggilan pekerjaan? Apakah kita lebih sering memeluk gadget daripada memeluk dan membimbing anak-anak kita? Sungguh, pertanyaan ini akan menggema di telinga kita di hari kiamat kelak.
Barangkali, tangisan ini adalah awal dari kebangkitan jiwa. Tangisan yang menyadarkan kita dari tidur panjang kelalaian. Tangisan yang memohon ampunan atas segala kekhilafan. Tangisan yang mengikat janji untuk menjadi ayah yang lebih baik, yang tidak hanya memberi makan raganya, tapi juga menyehatkan jiwanya, memantulkan cahaya iman di hatinya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.