Berbakti Dengan Orang Tua
Khutbah Jumat
T
Taharudin
6 Mei 2026
5 menit baca
3 views
Alhamdulillahilladzī hadānā li hadhā wa mā kunnā li nahtadī lawlā an hadānā Allāh. Wa ashhadu an lā ilāha illallāh wahdahu lā syarīka lah, Al-Malikul ...
Alhamdulillahilladzī hadānā li hadhā wa mā kunnā li nahtadī lawlā an hadānā Allāh. Wa ashhadu an lā ilāha illallāh wahdahu lā syarīka lah, Al-Malikul Haqqul Mubīn. Wa ashhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh, Sayyidul Awwalīn wal Ākhirīn, Allāhumma shalli ‘alā Muḥammadin wa ‘alā āli Muḥammadin kamā shallaita ‘alā Ibrāhīma wa ‘alā āli Ibrāhīma, innaka Ḥamīdun Majīd. Wa barik ‘alā Muḥammadin wa ‘alā āli Muḥammadin kamā barakta ‘alā Ibrāhīma wa ‘alā āli Ibrāhīma, innaka Ḥamīdun Majīd.
أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada hari yang mulia ini, mari kita tengadahkan hati kita ke hadirat Allah Yang Maha Pengasih. Mari kita renungkan, betapa seringnya kita lalai, betapa seringnya kita menyia-nyiakan nikmat, terutama nikmat yang telah Allah karuniakan melalui sosok yang paling dekat dengan kehidupan kita: kedua orang tua kita.
Betapa hati ini terasa perih, ketika kita teringat akan jerih payah mereka. Seorang ibu, yang melahirkan kita dalam siksa yang tak terbayangkan. Dia menahan sakitnya berbulan-bulan, menahan beban yang kian hari, kian berat, hingga akhirnya melahirkan kita ke dunia ini dalam keadaan lemah dan penuh luka. Sebagaimana firman Allah yang mengingatkan kita:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
*“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan kelemahan di atas kelemahan, dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku-lah kamu akan kembali.”* (QS. Luqman: 14).
Lihatlah, betapa Allah Subhanahu wa Ta'ala menyandingkan rasa syukur kepada-Nya dengan syukur kepada orang tua. Ini menunjukkan betapa besar kedudukan mereka di sisi Allah. Namun, seringkali kita justru melupakan, bahkan terkesan menyakiti hati mereka.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Ayah kita, pahlawan tanpa tanda jasa yang membanting tulang, memeras keringat, menahan lapar, agar kita bisa makan, bisa sekolah, bisa hidup layak. Beliau berjuang menanggung beban dunia di pundaknya, hanya agar senyum bahagia terpancar di wajah anak-anaknya. Teringatkah kita akan tatapannya yang lelah namun penuh cinta saat pulang kerja? Teringatkah kita akan belaian tangannya yang kasar namun menghangatkan?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
"Tidak ada setetes pun air mata yang lebih dicintai Allah daripada dua tetes: air mata yang menetes karena takut kepada Allah, dan air mata yang menetes karena mengalirkan rasa sakit di hati orang tua karena ulah anaknya."
Betapa sakitnya hati seorang ibu, ketika mendengar anaknya membentak, melukai, atau bahkan mengabaikannya. Betapa sedihnya seorang ayah, ketika melihat buah hatinya durhaka, berpaling, atau tak acuh terhadap pengorbanannya. Kita, anak-anaknya, adalah permata terindah bagi mereka, namun seringkali kita justru membuat mata mereka berkaca-kaca, membuat hati mereka terluka dalam diam.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di saat kita kecil, mereka sabar merawat kita, membangunkan kita shalat, mengajarkan kita membaca Alquran. Saat kita sakit, mereka begadang menjaga kita. Saat kita jatuh, merekalah yang pertama kali sigap membantu kita bangkit. Namun, ketika mereka tua, ketika mereka mulai renta, ketika mereka membutuhkan perhatian lebih, kita seringkali abai. Kita sibukkan diri dengan dunia, dengan pekerjaan, dengan urusan pribadi, seolah-olah mereka tak lagi memiliki tempat di hati kita.
Sungguh, penyesalan itu datangnya terlambat. Neraka jahanam dipersiapkan bagi mereka yang mendurhakai orang tua. Jauhkanlah diri kita dari sifat-sifat yang mendatangkan murka Allah. Berbakti kepada orang tua adalah jalan menuju surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Celakalah! Celakalah! Celakalah!" Para sahabat bertanya, "Siapa yang celaka, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya sedang sakit di usia senja, namun (karena durhaka) ia tidak masuk surga."
Bayangkanlah, sebuah kesempatan emas untuk meraih surga yang ditawarkan Allah, namun kita sia-siakan karena durhaka kepada orang tua. Sungguh kerugian yang tiada tara. Harta, tahta, pangkat, dan segala kenikmatan duniawi, takkan pernah bisa menggantikan ridha orang tua. Ingatlah, ridha Allah tergantung pada ridha orang tua.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mari kita sejenak membayangkan, betapa merindingnya bulu roma kita, ketika Allah memanggil kita kelak. Di hadapan-Nya, kita akan diminta pertanggungjawaban. Lisan ini, tangan ini, kaki ini, akan bersaksi atas perbuatan kita. Apakah sudah cukup kita berbakti? Sudah cukupkah kita membahagiakan mereka? Atau justru banyak luka yang telah kita torehkan di hati mereka?
Jika di antara kita ada yang telah kehilangan orang tua tercinta, janganlah terdiam dalam penyesalan semata. Bangunlah dari kelalaianmu. Berdoalah untuk mereka, bersedekahlah atas nama mereka, dan teruskanlah kebaikan mereka di dunia ini. Sebab, doa anak sholeh adalah amal jariyah yang takkan pernah terputus pahalanya.
Dan bagi yang masih memiliki orang tua, wahai saudaraku, janganlah sampai penyesalan itu datang kemudian. Peluklah mereka, ciumlah tangan mereka, dengarkanlah keluh kesah mereka, layanilah mereka dengan penuh keikhlasan dan cinta. Biarkan air mata mereka menetes karena bahagia melihat bakti kita, bukan karena lukanya hati mereka. Perbaikilah lisan kita, kendalikan amarah kita, dan tanamkanlah dalam jiwa bahwa mereka adalah pintu surga kita yang paling utama.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kedua orang tua kita, baik yang masih hidup maupun yang telah mendahului kita. Semoga Allah melapangkan kubur mereka, menerangi mereka dengan cahaya-Nya, dan mengumpulkan kita bersama mereka di surga-Nya kelak. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.