Logo SantriDigital

adab kepada guru dan orangtua

Ceramah
I
Indah Rachmawati
5 Mei 2026 4 menit baca 4 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاء...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: {وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَبِالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا} (النساء: 36). رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. Yang terhormat para alim ulama, para kiai, para tokoh masyarakat, Bapak Kepala Desa beserta perangkatnya, Bapak RT, Bapak RW, tokoh agama, tokoh adat, serta seluruh hadirin wal hadirat, Bapak-bapak, Ibu-ibu, saudaraku seiman dan seakidah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah mempertemukan kita di majelis yang penuh berkah ini. Guna menyambung tali silaturrahmi dan menimba ilmu agama yang insya Allah akan menjadi bekal kita di dunia dan akhirat. Hari ini, dengan penuh kerendahan hati, saya akan menyampaikan tausiyah singkat mengenai tema yang sangat penting dalam kehidupan kita sebagai seorang Muslim, yaitu tentang adab kepada guru dan orang tua. Hadirin yang berbahagia, Dalam ajaran Islam, berbakti kepada orang tua dan menghormati guru adalah dua pilar utama yang tidak dapat dipisahkan. Allah SWT sendiri memerintahkan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua sesaat setelah memerintahkan untuk menyembah-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an surat An-Nisa ayat 36, yang artinya: "Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Dia. Dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat dan ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri." Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kebaikan kepada orang tua diletakkan sejajar dengan ibadah kepada Allah. Ini menunjukkan betapa besar kedudukan orang tua dalam Islam. Mereka adalah pintu gerbang kita menuju kehidupan ini, yang telah merawat, mendidik, dan berkorban demi kebahagiaan kita. Adab kepada orang tua tidak hanya sebatas berbuat baik ketika mereka masih hidup, tetapi juga mendoakan mereka, meminta ampunan untuk mereka, dan menyambung tali silaturrahmi dengan keluarga serta teman-teman mereka setelah mereka tiada. Demikian pula dengan guru. Guru adalah pewaris para nabi. Merekalah yang membuka cakrawala ilmu kita, yang membimbing kita dari kegelapan kebodohan menuju cahaya pencerahan. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim). Ilmu yang kita peroleh dari guru akan menjadi bekal kita untuk beribadah kepada Allah dengan lebih baik, untuk menjalani kehidupan dunia dengan lebih bijak, dan untuk memberikan manfaat bagi sesama. Oleh karena itu, adab kita kepada guru juga harus istimewa. Ini bukan hanya sekadar menghormati secara lahiriah, tetapi juga menerima ilmunya dengan hati yang terbuka, tidak membantah dengan cara yang tidak sopan, menjaga lisan kita agar tidak menyakiti perasaan mereka, dan mendoakan kebaikan bagi mereka. Di desa kita ini, banyak sekali para kiai, ustadz, dan ustadzah yang telah mengajarkan ilmu agama kepada kita. Mari kita balas jasa mereka dengan rasa hormat, kerelaan untuk belajar, dan doa yang tulus. Berkata Imam Syafi'i rahimahullah: "Aku berkata kepada Waraqah bin Naufal, 'Apakah engkau akan mencela aku?' Ia menjawab, 'Tidak, demi Allah, aku tidak akan mencela engkau, wahai saudaraku, kecuali apa yang memang patut dicela'." (Riwayat Ibnu Asakir). Ini menunjukkan bagaimana seorang murid yang beradab, bahkan ketika ia telah alim, tetap menghormati gurunya dan tidak berani mencela. Hadirin yang dirahmati Allah, Adab kepada orang tua dan guru inilah yang akan menjadi kunci keberkahan dalam hidup kita. Dengan berbakti kepada orang tua, Allah akan meridhai langkah kita. Dengan menghormati guru, ilmu yang kita pelajari akan bermanfaat. Mari kita jadikan pengingat ini sebagai motivasi untuk memperbaiki diri. Selalu jaga lisan, jaga hati, dan jaga sikap kita terhadap mereka yang telah berjasa besar dalam hidup kita. Jangan sampai kita menjadi pribadi yang sombong dan melupakan jasa mereka, karena itu adalah jalan yang dibenci Allah. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan ini bermanfaat dan dapat menjadi bekal bagi kita semua dalam mengarungi kehidupan ini. Mari kita senantiasa berupaya untuk menjadi anak yang berbakti dan murid yang beradab. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →